Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Mat 28:19-20
Kata “baptis” yang kita temukan pada ayat ini, dan pada ayat-ayat lain dalam Alkitab adalah sebuah kata yang unik. Kita tidak akan menemukan akar katanya dalam bahasa Indonesia, bahkan dalam bahasa Inggris pun kata baptize bukan merupakan bahasa asli Inggris. Kata baptis atau baptize berasal dari kata Yunani yaitu baptizo atau ditulis βαπτίζω. Menurut Kamus Bahasa Ibrani dan Yunani karangan James Strong, baptizo adalah kata kerja turunan dari kata bapto (βάπτω) yang memiliki arti meliputi, melingkupi secara utuh dengan cairan, mencelupkan, atau membuat sepenuhnya basah. (Strong's Exhaustive Concordance by James Strong, S.T.D., LL.D., 1890).
Dalam Alkitab, kata bapto digunakan dalam 3 ayat yaitu:
- Yohanes 13:26 Jawab Yesus: "Dialah itu, yang kepadanya Aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya." Sesudah berkata demikian Ia mengambil roti, mencelupkannya dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot.
- Wahyu 19:13 Dan Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya ialah: "Firman Allah."
- Luk 16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
Dalam ketiga ayat tersebut kata bapto digunakan untuk menggambarkan mencelupkan sesuatu kedalam cairan dan kemudian mengeluarkannya kembali.
Lalu jika memang arti sebenarnya dari kata bapto adalah mencelupkan sesuatu kedalam cairan dan mengeluarkannya kembali (diterjemahkan menjadi celup dalam Alkitab LAI) mengapa sekitar 80 ayat yang menggunakan kata baptizo tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, tetapi malah menyerap bahasa Yunani menjadi baptis. Hal yang sama juga terjadi dalam alkitab bahasa Inggris, khusus kata baptizo tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tetapi menjadi baptize. Bahkan akibat dari asimilasi bahasa Yunani ini, sekarang kita melihat banyak penafsiran yang berbeda-beda terhadap kata baptizo dan yang paling vital adalah perbedaan dari cara melakukan sakramen baptisan.
Untuk mengetahui mengapa kata baptis ini bisa muncul dalam Alkitab, kita perlu melihat sejarah dari penterjemahan Alkitab terutama Alkitab bahasa Inggris King James Version. Pada tahun1604 Raja James I dari Inggris menerima proposal untuk membuat alkitab bahasa Inggris yang resmi. Sebelum versi King James, sudah ada beberapa terjemahan Alkitab dalam bahasa Inggris yaitu:
- Versi oleh John Wycliffe dan William Tyndale (1525) yang sangat mendukung gerakan protestan oleh Martin Luther beberapa tahun sebelumnya (September 1522). Beberapa terjemahannya dinilai sangat provokatif terhadap gereja Katolik, misalnya kata 'gereja' diterjemahkan menjadi 'jemaat'.
- Versi Great Bible (1538) dibuat berdasarkan versi William Tyndale, yang sudah dihukum mati dengan dibakar karena tuduhan murtad, merupakan versi resmi pertama dalam bahasa Inggris, dibuat dalam masa pemerintahan raja Henry VIII.
- Versi Geneva Bible (1560) dibuat oleh pemimpin-pemimpin gerakan protestan Inggris yang lari ke Swiss dari kejaran Ratu Inggris Mary I dengan tuduhan 'murtad'. Versi ini dibuat dengan bantuan Theodore Beza seorang pengikut dan penerus John Calvin.
- Versi Douay-Reihms (1582), terjemahan langsung dari Alkitab bahasa Latin-Vulgate, Versi ini merupakan versi resmi yang diakui oleh Gereja Katolik pada saat itu dan merupakan upaya untuk menjawab gerakan reformasi protestan.
Raja James kemudian membentuk komisi yang terdiri dari 47 orang akademisi dari Universitas Oxford, Universitas Cambridge dan Gereja Westminster. Komisi ini menggunakan semua versi yang ada sebelumnya sebagai referensi dan kitab asli bahasa Yunani (Texus-Receptus) dan bahasa Ibrani (Masoretic) sebagai dasar. Dalam suratnya, Raja James secara eksplisit memberi instruksi untuk menghindari kontroversi sebisa mungkin.
Hasilnya adalah seperti yang dapat kita baca sekarang ini. Salah satu contoh paling jelas dari usaha menghindari kontroversi ini adalah bagaimana kata baptizo diterjemahkan atau lebih tepatnya 'tidak diterjemahkan'. Pada waktu itu sudah banyak perbedaan pendapat mengenai bagaimana cara melakukan baptisan. Gereja Katolik Roma melakukan praktik baptisan percik sedangkan Gereja Eastern Ortodoks melakukan baptisan selam. Demikian juga dengan gereja-gereja lain melakukan baptisan dengan cara yang berbeda, ada yang disiram, bahkan ada yang sama sekali tidak melakukan baptisan.
Setiap aliran memiliki alasan-alasan masing-masing mulai dari alasan cuaca (pada musim dingin, merupakan hal yang sangat sulit untuk melakukan baptisan selam di kolam sedingin es) sampai alasan kepraktisan (jemaat yang dibaptis sangat banyak, jadi tidak efisien jika dilakukan baptisan selam satu-persatu). Padahal jika saja kata baptizo ini diterjemahkan sesuai dengan bahasa aslinya maka tidak akan ada perbedaan cara baptisan seperti sekarang ini. Amanat Agung Tuhan Yesus sesaat sebelum Dia terangkat ke Sorga sangat jelas bahwa kita harus dibaptis secara selam.
Dilihat dari segi bahasa sudah jelas bahwa kata baptizo menunjuk kepada cara baptis selam. Ini dengan jelas diperlihatkan oleh Nicander, seorang pujangga dan tabib Yunani. Hidup sekitar 200 tahun sebelum Yesus, Nicander menuliskan resep cara membuat asinan buah (acar mentimun) dalam resepnya Nicander menulis untuk membuat acar mentimun, mentimun pertama-tama dicelup (bapto) ke dalam air panas kemudian direndam (baptizo) ke dalam air cuka. Bahkan Catholic Encyclopedia menuliskan “Cara baptis pada masa gereja mula-mula adalah dengan diselam” (New Catholic Encyclopedia, 1967, Vol. II, p. 56)
Namun lebih dari semuanya itu Alkitab sendiri dengan jelas menuliskan kepada kita arti baptisan yang sesungguhnya dan baptisan seperti apa yang menggambarkan hal tersebut.
"Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Rom 6:2-4).
Baptis Selam adalah “Tanda Kematian manusia lama kita dan kebangkitan hidup yang baru bersama Kristus.” Baptis Selam juga adalah “Tanda Pertobatan dan Kelahiran Baru kita dalam Kristus" (Titus 3:5, Mat 3:11)
Sumber: KOM 100 Pencari Tuhan,
www.wikipedia.org, www.newadvent.org
No comments:
Post a Comment