Tiba-tiba seorang malaikat berdiri di tengah-tengah mereka. Sebuah cahaya yang terang bersinar dan mereka merasakan suatu kemuliaan yang kudus melingkupi mereka. Sewajarnya, gembala-gembala tersebut sangat ketakutan.
Namun malaikat tersebut kemudian berkata:
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kabar baik untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
Segera setelah malaikat tersebut selesai berbicara, tampaklah malaikat-malaikat dengan jumlah yang sangat banyak, suatu pemandangan yang luar biasa. Dan malaikat-malaikat tersebut memuji-muji Allah dengan berkata:
"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi, di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Kemudian malaikat-malaikat tersebut pergi dan kembali ke sorga. Setelah beberapa saat, para gembala tersebut kemudian saling berbicara dengan penuh semangat, kata mereka:
"Mari kita ke Betlehem dan melihat peristiwa yang terjadi itu, yang diberitahukan Tuhan kepada kita."
Mereka segera pergi, lalu menjumpai Maria dan Yusuf, serta bayi itu yang sedang berbaring di dalam palung, tepat seperti yang dikatakan oleh malaikat-malaikat itu kepada mereka.
Cerita di atas diambil dari kitab Lukas 2:8-16. Banyak hal yang bisa digali dari 8 ayat yang singkat ini.
Para Gembala
Pekerjaan gembala domba pada jaman itu di Israel dianggap pekerjaan yang rendah dan tidak terlalu penting, mereka hidup bersama domba-domba mereka, memberi makan dan menjaga domba-domba tersebut, supaya domba-domba tersebut tetap sehat. Kemungkinan besar domba-domba mereka untuk dipersembahkan sebagai korban di Bait Suci.
Tetapi mengapa Tuhan memilih para gembala untuk menerima kabar kelahiran Yesus lewat malaikat-malaikat sorgawi? Mengapa tidak kepada para imam di Bait Suci, atau ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi? Mengapa juga tidak kepada pemimpin-pemimpin bangsa-bangsa, mengapa justru kepada para gembala domba yang sederhana?
Dalam Alkitab, banyak sekali catatan mengenai gembala. Gembala digambarkan sebagai seorang yang memelihara dan melindungi. Habel anak Adam adalah seorang gembala (Kej 4:2). Sebelum menjadi raja, Daud adalah seorang gembala di daerah Bethlehem (1 Sam 16:4-13). Tuhan sering menggambarkan diriNya sendiri sebagai seorang Gembala (Mazmur 23) yang memelihara domba-dombanya, yaitu umat manusia. Dan Yesus sendiri mengatakan "Akulah gembala yang baik" (Yoh 10:14).
Para gembala di padang Efrata, Yudea, dipilih untuk menggambarkan bahwa Yesus sang Mesias datang kepada semua orang, tanpa kecuali, bahkan kepada orang-orang yang sederhana seperti para gembala ini, para gembala ini juga akan menemukan Yesus lahir di dalam kandang, di baringkan di dalam sebuah palungan, tempat makan ternak, hal-hal yang sangat dekat dengan kehidupan gembala. Dan Yesus juga datang sebagai seorang gembala yang baik yang akan memelihara umat manusia sebagai domba-dombanya, Ia juga rela berkorban untuk melindungi domba-dombanya bahkan hingga mati.
Kabar Baik Bagi Semua Orang
Malaikat yang pertama mengatakan: "aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa" (Luk 2:10). Kata yang digunakan dalam frasa "kesukaan besar" pada dasarnya berarti Injil!
Tidak banyak orang menyadari bahwa kata Injil, diambil dari kata bahasa Yunani euaggelizō. Kata euaggelizō diterjemahkan menjadi "evangelize" dalam bahasa Inggris. Dalam bahasa Arab diterjemahkan menjadi "Injil", yang kemudian digunakan juga dalam bahasa Indonesia. Kata euaggelizō inilah yang diterjemahkan oleh LAI menjadi "berita kesukaan besar," sebuah kabar baik (injil/gospel).
Jadi malaikat tersebut mengawali pesannya dengan mengatakan bahwa ia membawa kabar baik bagi seluruh bangsa. Hal ini menjadi sangat penting karena tidak dikatakan kabar baik hanya untuk bangsa Israel saja, tetapi untuk seluruh bangsa. Kabar baik seperti apa?
Mesias sudah Datang!
Malaikat itu berkata "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud." (Luk 2:11)
Kata "Kristus" berasal dari bahasa Yunani, "Khristos," yang berarti "Yang diurapi" atau lebih sering kita kenal dengan "Mesias." Sepanjang sejarah bangsa Israel, orang-orang Yahudi menantikan datangnya Mesias. Bagi orang Israel, kedatangan Mesias adalah fondasi utama dari agama Yahudi. Bagi mereka, Mesias akan muncul sebagai pemimpin politik yang berasal dari keturunan raja Daud. Pemimpin atau raja ini akan mengumpulkan orang-orang Yahudi dari seluruh penjuru berkumpul kembali di Tanah Perjanjian, Israel, dan akan membawa orang Israel dan seluruh dunia masuk kedalam era mesianik yang damai.
Tentunya berita ini menjadi penting bagi orang Israel, termasuk gembala-gembala di padang, karena pada masa itu mereka sedang dalam penjajahan oleh bangsa Romawi. Orang-orang Yahudi telah mengalami banyak masa penindasan baik oleh dalam pembuangan di Babilonia, Persia, Yunani dan yang terakhir Romawi. Kabar bahwa mesias sudah datang tentunya sangat dinanti-nantikan oleh orang-orang Yahudi.
Di kota Daud
Biasanya kota yang dijuluki Kota Daud adalah Sion atau Yerusalem. Daud sendiri menamai Yerusalem sebagai "Kota Daud" dalam 2 Sam 5:9. Tetapi Daud sendiri berasal dari suatu desa kira-kira 6 mil selatan dari Yerusalem yaitu Bethlehem (2 Sam 17:12).
Betlehem yang berarti "Rumah Roti," merupakan salah satu kota tertua di daerah Palestina, sebelum ditaklukan oleh orang-orang Israel daerah tersebut dinamakan Efrata dan merupakan tempat dikuburnya Rahel, istri dari Yakub (Kej 35:19). Kisah dalam kitab Ruth mengambil tempat di Betlehem. Suami dari Ruth adalah Boaz, Boaz dan Ruth memiliki anak laki-laki bernama Obed, Obed kemudian memiliki anak laki-laki bernama Isai yang merupakan ayah dari Daud (Ruth 4:21-22).
Yang menarik adalah keterkaitan antara para gembala di padang, Daud dan Betlehem, karena pekerjaan Daud ketika ia masih kecil di Betlehem adalah menjadi gembala domba (1 Sam 16:4-11), dan Daud akhirnya menjadi raja bangsa Israel. Yesus sang Mesias juga lahir di Betlehem, dan pada akhirnya Yesus akan menjadi Raja tidak saja bagi bangsa Israel, tetapi menjadi Raja atas segala raja.
Damai di Bumi
"Peace on Earth" kalimat ini sering kali kita lihat dalam kartu-kartu natal atau slogan-slogan natal. Apakah yang menjadi bayangan kita, ketika membaca bagaimana bala tentara malaikat menyerukan kata-kata ini di hadapan para gembala di padang? Apakah akan peperangan akan berhenti? Apakah akan muncul perdamaian antara manusia? Manusia tidak lagi saling membenci? Apakah seluruh umat manusia menjadi saling mengasihi? Kenyataannya tidak seperti itu?
Sudah sekitar 2.000 tahun sejak Yesus lahir tetapi perdamaian seperti yang kita bayangkan tidak terjadi di dunia ini. Lalu apa maksud dari para malaikat ketika mengatakan "Damai sejahtera di bumi."
Lukas 2:14 secara lengkap berbunyi: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Ada dua tarsiran mengenai apakah Damai Sejahtera berlaku kepada seluruh penghuni bumi atau hanya kepada manusia yang berkenan kepada Allah. Namun keduanya memiliki pengertian bahwa telah terjadi "damai" di Bumi. Damai seperti apakah yang dimaksud oleh malaikat-malaikat tersebut?
Rasul Yohanes menulis dalam suratnya:
"Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." - 1 Yoh 2:2
Haleluya! Ternyata damai yang diberitakan oleh para Malaikat kepada para gembala di padang bukanlah sekedar perdamaian lahiriah seperti soal peperangan atau perdamaian antara manusia saja, tetapi perdamaian yang jauh lebih penting, yaitu perdamaian antara Allah dengan umat manusia!
Ketika Yesus datang ke dunia ini, lewat pengorbananNya di kayu salib untuk menanggung dosa-dosa seluruh umat manusia, maka Allah telah mendamaikan diriNya dengan kita. Kita semua adalah orang-orang yang berdosa dan seharusnya menerima penghukuman. Tidak hanya dengan sebagian orang, tetapi dengan seluruh umat manusia.
Yang menjadi masalah adalah untuk menerima pendamaian ini, seseorang harus menerimanya dengan iman, yaitu iman percaya kepada Yesus dan pengorbanannya di kayu salib (Rom 5:1-2). Untuk menerima pendamaian ini, seseorang harus sadar terlebih dahulu bahwa sebenarnya ia terhitung dalam kelompok orang-orang yang dihukum, orang-orang yang berada dalam kuasa si Iblis.
Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. - Rom 5:1-2
Itulah sebabnya disebut bahwa damai sejahtera tersebut walaupun diberikan kepada seluruh manusia di bumi, tetapi hanya menjadi berlaku kepada orang-orang yang berkenan kepada Allah. Lalu siapakah orang yang disebut berkenan kepada Allah? Hanyalah orang-orang yang memiliki iman!
"Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah." - Ibr 11:6a
Lalu siapakah yang harus memberitahukan kepada seluruh manusia di dunia ini akan berita baik (gospel, injil) ini? Tugas tersebut ada pada saudara dan saya, yaitu orang-orang yang sudah terlebih dahulu diperdamaikan.
Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Korintus:
"Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami." - 2 Kor 5:18-19.
Berita baik yang agung ini disampaikan kepada para gembala yang sederhana di padang Efrata, berita baik yang agung ini juga harus disampaikan kepada semua orang di seluruh dunia ini yang sangat membutuhkannya. Dan berita baik mengenai karya keselamatan dan pendamaian yang agung ini telah Allah percayakan kepada saudara!
Maukah saudara menyampaikannya?
Selamat Natal!
yuppppppppppp mau!!!!!!!!!!!!!
ReplyDelete