Ayat di atas adalah ayat yang sangat sering kita dengar yang kemudian kita sebut sebagai “Amanat Agung”. Peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke Sorga yang kita peringati minggu ini tidak bisa dipisahkan dari Amanat Agung Tuhan Yesus. Ini adalah pesan terakhir Yesus sebelum naik ke Sorga. Pada kesempatan ini kita akan mengupas Amanat Agung Tuhan Yesus ini dengan lebih seksama.
Kuasa Tuhan Yesus memulai perintahnya dengan suatu pernyataan, suatu deklarasi yang menjadi fondasi. Tuhan Yesus mengatakan: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa”.
Menurut kamus Strong, kata 'kuasa' diterjemahkan dari bahasa Yunani exousia. Lebih jelas jika digunakan kata moderen otoritas (authority), berbeda dengan kata 'kuasa' yang digunakan dalam Kisah Rasul 1:8 di mana Yesus berkata “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu”. Kata 'kuasa' pada ayat terakhir ini terjemahan dari kata dunamos.
Kata kuasa dalam Amanat Agung ini menunjukkan Yesus sebagai memiliki otoritas, atau berkuasa atas murid-muridnya dan memiliki hak untuk mendapatkan sikap taat dari murid-muridnya. Kenaikan Yesus ke Sorga untuk duduk di sebelah kanan Allah Bapa, jauh lebih tinggi dari segala pemerintahan, kuasa dan kekuasaan di dunia ini dan di dunia yang akan datang (Ef 1:20,21), supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan!” (Flp 2:10-11).
Konsekuensi dari hal ini, kita yang mengaku sebagi murid-murid Yesus tidak punya pilihan selain mentaati dan menjalankan Amanat Agung ini. Seperti seorang Jenderal yang memberikan perintah kepada bawahannya, jika bawahannya tidak mentaati perintah tersebut maka bawahannya melanggar perintah, dan harus bertanggung jawab.
Amanat Agung adalah perintah, bukan permintaan, permohonan, nasehat, saran atau himbauan.
Tujuan Utama: Menjadikan Murid
Kalimat berikutnya pada ayat 19 sebagai berikut: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
Dalam bahasa Inggris literalnya (sesuai urutan kata bahasa Yunani) adalah sebagai berikut: “Going then, disciple all the nations! Immersing them in the name of the father, and of the son, and of the holy spirit. Teaching them to give heed to all as much as I gave charge to you.” (The Greek Interlinear Apostolic Bible Polyglot, 2006). Perhatikan bahwa satu-satunya frasa perintah dalam kalimat ini adalah 'disciple all the nations!' (Yun: mathēteuō, Jadikanlah semua bangsa murid-Ku, LAI). Sedangkan kata 'Going' (Yun: poreuomai, Pergilah), 'Immersing' (Yun: baptizō, Baptislah), dan 'Teaching' (Yun: didaskō, Ajarlah) mengindikasikan cara-cara melakukan perintah tersebut.
Dalam bahasa sederhana Amanat Agung mengatakan: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku, caranya 'Pergilah', 'Baptislah' dan 'Ajarlah'”. Jadi fokus Amanat Agung adalah menjadikan semua bangsa murid Yesus! Pergi, membaptis dan mengajar bukanlah tujuan utama dari Amanat Agung melainkan metode, cara, atau kegiatan dari 'menjadikan murid'.
Perlu diingat cara dan tujuan ini adalah dua sisi berbeda dari satu koin yang sama, sisi yang satu tidak bisa ada tanpa sisi yang lain. Jika jemaat melakukan aktifitas 'pergi', 'baptis' dan 'mengajar' tanpa tujuan untuk menjadikan murid berarti melanggar tujuan esensial dari Amanat Agung, dilain pihak jika jemaat 'menjadikan bangsa murid' tanpa melakukan 'pergi', 'baptis' dan 'mengajar' juga sudah gagal melaksanakan Amanat Agung.
Pergilah
Kata 'pergilah' mengindikasikan dua hal. Pertama, berkaitan dengan konsep penginjilan. Adalah hal yang sulit untuk menjadikan orang yang belum Kristen menjadi murid Yesus, jadi langkah pertama adalah memperkenalkan mereka kepada Yesus dan mengalami kelahiran baru.
Kedua, kata 'pergilah' menunjukkan bahwa kita harus mengambil insiatif untuk bergerak dan pergi. Amanat Agung tidak akan bisa dipenuhi jika kita hanya diam saja atau pasif. Tuhan Yesus dengan jelas memerintahkan kita untuk bersikap aktif, tidak hanya menjadi penonton. Hal ini dapat berarti pergi ke pedalaman, ke luar negeri, ke bangsa-bangsa atau juga pergi ke rumah tetangga anda di seberang jalan. Yang penting adalah anda mengambil inisiatif, proaktif, bergerak, pergi!
Baptislah
Kata 'baptislah' menunjuk kepada cara baptis selam seperti yang dilakukan oleh gereja mula-mula. Untuk informasi lengkap mengenai baptis selam sudah dibahas panjang lebar dalam edisi-edisi warta yang sebelumnya, anda dapat melihat arsipnya pada website resmi gereja (http://www.gbi-bogor.org). Tetapi dalam kaitannya dengan Amanat Agung maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Ketika seseorang melakukan baptisan selam, maka ia menyatakan secara terbuka kepada dunia ini bahwa ia sudah menjadi bagian dari Kerajaan Allah (Ef 4:3-6). Ketika ia ditenggelamkan, dan dibangkitkan kembali dari dalam air, ia sedang mengidentifikasikan diri dengan kematian, penguburan dan kebangkitan Tuhan Yesus.
Pada masa gereja mula-mula, tindakan baptisan air dapat membawa cemoohan, penganiayaan hingga kematian dari orang-orang yang belum percaya disekitarnya – dan di beberapa daerah di dunia, hal ini masih terjadi sampai sekarang. Pada masa itu baptisan air adalah harga yang mahal yang harus dibayar bagi seseorang untuk bisa menyatakan bahwa 'ia adalah murid Yesus.' Dalam kacamata Amanat Agung, Yesus memerintahkan kita untuk menjadikan murid dengan cara menolong mereka dikenal secara terbuka sebagai milik-Nya.
Selain identifikasi sebagai milik Yesus, baptisan air juga deklarasi masuknya orang tersebut sebagai anggota keluarga Allah, atau jemaat Allah. Ia menyatakan kepada dunia bahwa ia sekarang ada dipihak murid-murid Kristus.
Ada implikasi penting dari hal ini yang sering dilupakan oleh jemaat. Setelah seseorang dibaptis, ia harus diterima sebagai anggota keluarga oleh jemaat. Ia benar-benar menjadi anggota keluarga dan jemaat memiliki tanggung jawab sebagaimana layaknya keluarga. Jadi tidak cukup hanya menjabat tangan dan memberi selamat kepada mereka setelah dibaptis tetapi sebagai anggota keluarga, harus terlibat dalam urusan-urusan keluarga Allah.
Ajarlah
Jika seseorang disebut murid, logikanya ada sesuatu yang dipelajari dan ada yang mengajarkannya. Mengajar yang dimaksud dalam hal ini bukan sekedar pengetahuan saja, tetapi pengajaran yang membawa tindakan yang kemudian membawa perubahan. Kalimat lengkapnya adalah “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu” (Mat 28:20). Perhatikan adanya kata 'melakukan'. Untuk seseorang melakukan sesuatu, terlebih dahulu ia harus tahu apa yang harus dilakukan. Dilain pihak tugas kita tidak berhenti ketika seseorang menerima pengajaran, tidak peduli seberapa banyak pengajaran yang ia terima, jika orang tersebut belum melakukan apa yang sudah diajarkan tersebut.
Secara umum ada tiga langkah yang harus dilakukan dalam hal ini.
Langkah pertama tentunya tindakan 'belajar' itu sendiri. Langkah ini meliputi perpindahan informasi yang menghasilkan adanya pengetahuan atau diistilahkan 'head knowledge'. Tetapi bukan sekedar pengetahuan sebagai fakta tetapi pengetahuan yang dimengerti secara sungguh-sungguh. Jadi bukan hanya 'membaca' tetapi juga ada proses perenungan yang berulang-ulang, menyeluruh dan sistematis. (Ul 6:6,7)
Langkah kedua adalah 'mencintai'. Tidak cukup hanya mengerti dengan sungguh-sungguh tetapi seseorang harus mencintai pengajaran Yesus sehingga percaya dan mengimaninya dengan sungguh-sungguh atau diistilahkan 'heart knowledge'. (Mzm 1:2).
Langkah ketiga adalah 'melakukan'. Jika rasa cinta akan pengajaran Tuhan Yesus sudah terbentuk, maka langkah ketiga adalah melakukan pengajaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari, 'hand knowledge'.
Sesuai dengan Amanat Agung ini, pemimpin jemaat diwajibkan untuk menjaga dan memberi makan kawanan domba (Kis 20:28). Tetapi hal yang menarik untuk direnungkan: Jika gembala diharuskan untuk memberi makan, bukankah domba-domba diharuskan untuk makan?
Sebagian besar dari jemaat Tuhan berpendapat bahwa kewajiban mereka adalah pergi ke Gereja pada hari Minggu, memberi persembahan, dan mengikuti Perjamuan Kudus, kegiatan sisanya sekedar pilihan saja, tergantung dari keinginan, kesibukan atau sekedar rasa sungkan. Padahal Gereja Tuhan sudah mempersiapkan banyak sarana bagi jemaat untuk belajar dan bertumbuh. Anggapan bahwa menjadi orang Kristen tidak perlu belajar adalah anggapan keliru yang disebarkan oleh Iblis, karena Firman Tuhan jsutru memperingatkan bahwa di akhir zaman akan banyak timbul penyesatan (Mat 24).
Refleksi
Kita sebagai orang-orang yang diberi karunia untuk mengaku sebagai murid-murid Kristus memiliki kewajiban untuk melaksanakan perintah dari Raja di atas segala raja, Tuhan di atas segala Tuhan, Pencipta Alam Semesta yang sudah mati untuk menebus dosa kita yaitu Yesus Kristus. Jika Tuhan Yesus sudah memberikan perintah, Ia juga sudah memberikan kepada kita segenap hal yang diperlukan untuk melaksanakan perintah tersebut, ingat perumpamaan mengenai talenta (Mat 25:14-30). Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakan Amanat Agung. Ini bukan hanya tugas dari pendeta, gembala atau pelayan Tuhan saja, ini adalah tugas kita semua.
Tunaikanlah Amanat Agung yang telah diberikan kepada anda, sesederhana apapun tugas tersebut di mata manusia tetapi di mata Allah sangat berharga. Ingatlah peringatan Yesus pada saat kita menyia-nyiakan talenta yang sudah diberikan kepada kita (Mat 25:29-30). Amin!
Referensi:
- Alkitab Terjemahan Baru, Lembaga Alkitab Indonesia, 1994
- Christopher B. Adsit, Personal Disciple-Making, Here's Life Publishing, 1988
- KOM 100 – Pencari Tuhan, Div. Pengajaran Pusat , 2006
- James Strong, S.T.D., LL.D., Dictionaries of Hebrew and Greek Words taken from Strong's Exhaustive Concordance, 1890.
- The Greek Interlinear Apostolic Bible Polyglot, 2006
- Wayne Jackson, The Great Commission According to Mattew, Christian-Courier.com, 2004
Minggu, 27 Mei 2007
No comments:
Post a Comment