Dalam artikel yang lalu, kita sudah belajar bahwa keselamatan setiap manusia adalah proses yang harus dijalani dengan pengertian dan kesadaran sendiri, termasuk keselamatan dari anak-anak kita, dan sebagai orang tua, kita yang paling bertanggung jawab dalam memberitakan Injil Keselamatan kepada anak-anak kita. Kita juga sudah belajar mengenai kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua ketika memberitakan keselamatan kepada anak-anak mereka, yaitu; 1) Terlalu menyederhanakan Injil Kristus, 2) Memaksakan tindakan iman, 3) Membuat asumsi sudah lahir baru, 4) Memaksakan keyakinan sudah selamat, dan 5) Terburu-buru melakukan baptisan air.
Dalam artikel ini kita akan belajar apa saja yang dilakukan untuk memberitakan Injil kepada anak-anak kita supaya mereka memiliki pengertian yang benar dan lengkap mengenai keselamatan mereka.
1. Yakin Bahwa Anda Sendiri Sudah Diselamatkan
Sebelum kita dapat memberitakan Injil kepada anak-anak kita, terlebih dahulu kita harus yakin kepada keselamatan kita. Selain itu kita juga harus memeriksa apakah kita sudah memiliki pengertian yang benar, lengkap dan menyeluruh mengenai Injil Keselamatan. Tanpa pengertian dan keyakinan yang benar maka mustahil anda dapat memberitakan injil keselamatan kepada anak-anak anda.
Pengertian yang benar mengenai karya keselamatan yaitu mengenai status manusia berdosa, kedaulatan Allah, salib Kristus dan lain-lainnya harus dikuasai dan diimani dengan mantap sebagai fondasi dari kehidupan iman kita. Jika kita belum memiliki pengertian yang lengkap dan benar adalah bijaksana untuk merendahkan hati dan belajar lebih lagi akan kebenaran Firman Tuhan.
2. Memberikan Teladan Ilahi yang Konsisten
Memberitakan injil kepada anak-anak bukan sekedar membicarakan pesan Injil melalui mulut kita, tapi juga memberi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua tidak saja menceritakan dan menjelaskan kebenaran Firman Tuhan, tetapi juga memperlihatkan kepada anak-anak bahwa orang tua juga melakukan apa yang mereka katakan. Ketika orang tua tidak saja setia dalam memberitakan Injil tetapi juga menjalankan pesan Injil maka hasilnya akan dahsyat.
Karena pernikahan adalah gambaran dari hubungan Kristus dengan jemaat (Ef 5:22-33), hubungan antara suami dengan istrinya menjadi hal yang amat sangat penting. Bahkan, selain hubungan pribadi masing-masing orang tua dengan Kristus, hubungan suami istri yang harmonis adalah hal yang tidak kalah penting dalam memberikan contoh kepada anak-anak. Memberikan teladan ilahi yang konsisten adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
3. Memberitakan Pesan Injil Kristus dengan Lengkap
Inti dari penginjilan adalah Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Rom 1:16). Seorang anak bertobat semata-mata karena ia mengerti dan percaya kepada karya keselamatan Kristus di kayu salib. Anak-anak tidak dapat diselamatkan selain oleh pemberitaan Injil.
Oleh karena itu, orang tua perlu mengajarkan hukum-hukum Tuhan, karunia keselamatan yang ilahi, menunjukkan kepada mereka bahwa mereka butuh seorang Juru Selamat, dan mengarahkan mereka kepada Yesus Kristus sebagai satu-satunya pribadi yang dapat menyelamatkan mereka. Sebaiknya orang tua memulainya dari awal, yaitu mengenai Allah, penciptaan, kejatuhan manusia, dosa, jalan keselamatan, dan mengenai kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus.
Pada saat mereka mengajar anak-anak mereka, orang tua perlu ingat untuk tidak terlalu menyederhanakan pesan Injil atau menyepelekan kewajiban mereka terhadap Injil. Orang tua harus memberitakan Injil dengan lengkap. Kuncinya adalah memberitakan dengan jelas dan lengkap. Sebagai orang tua, kita memiliki kesempatan paling banyak untuk menerangkan kebenaran Injil, dan tidak ketinggalan untuk memperbaiki jika ada pengertian yang keliru. Juga untuk memperjelas bagian-bagian yang sulit dari pesan Injil. Orang tua yang bijaksana akan dengan beriman, sabar dan tidak jemu-jemu, menjadikan setiap detik dari kehidupan anaknya sebagai kesempatan untuk mengajar. (Ul 6:6-7)
Salah satu kesempatan emas dalam mengajarkan pesan Injil oleh orang tua adalah ketika mendisiplinkan atau menegur anak-anak kita ketika mereka melakukan kesalahan (Ef 6:4). Dari pada mencoba untuk mengubah perilaku mereka, orang tua yang bijaksana akan memandang aksi disiplin sebagai kesempatan untuk membantu anak-anak menyadari kesalahan mereka, dan ketidak mampuan mereka untuk taat, dan kemudian kebutuhan mereka untuk menerima pengampunan dalam Kristus. Dengan cara ini, disiplin dan teguran digunakan untuk membawa anak-anak sadar akan keadaan mereka sebagai orang berdosa dan mengajak mereka kepada salib Kristus dimana orang berdosa diampuni.
Sebagai orang tua, berikan penjelasan mengenai Injil, ajak mereka untuk meresponi pesan Injil, tetapi hindari penekanan terhadap tindakan lahiriah seperti “doa pertobatan” yang liturgis. Isi injil pada dasarnya sudah berisi suatu dorongan, dan orang tua perlu menekankan kepada dorongan tersebut kedalam hati anak-anaknya, tetapi fokus utamanya adalah respon yang keluar dari dalam hati, bukan sekedar yang kelihatan saja. Pada saat orang tua dengan tekun mengajarkan pesan Injil dan mengambil kesempatan sehari-hari untuk menunjukkan kebenaran Firman Tuhan, mereka dapat memperhatikan tanda-tanda yang diperlihatkan oleh anak-anak yang menunjukkan bahwa mereka secara sungguh-sungguh sudah bertobat dan percaya
3. Memahami Tanda-tanda Alkitabiah dari Keselamatan
Tanda bahwa seseorang sudah sungguh-sungguh bertobat dari dosanya dan percaya kepada Kristus sama pada anak-anak maupun orang dewasa, yaitu perubahan secara rohani. Menurut Firman Tuhan, orang percaya akan mengikuti Yesus (Yoh 10:27), mengakui dosa mereka (1 Yoh 1:9), menurut perintah Allah (1 Yoh 2:3, Yoh 15:14, Yoh 17:6), melakukan kehendak Allah (Mat 12:50), tinggal dalam Firman Tuhan (Yoh 8:31), dan melakukan perbuatan baik (Ef 2:10).
Orang tua perlu memperhatikan apakah ada pertumbuhan dalam hal-hal ini dalam kehidupan anak-anak mereka, sementara terus mengajarkan kebenaran Firman. Orang tua harus dengan tidak jemu-jemu memperkenalkan Kristus kepada buah hati mereka (Ul 6:6-7), tetapi juga berhati-hati agar tidak membuat mereka merasa bahwa mereka sudah diselamatkan padahal mereka belum menerima pengertian yang benar (lihat artikel minggu lalu mengenai kesalahan-kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua).
4. Memberi semangat saat ada tanda-tanda menuju kelahiran baru
Karena seorang anak cenderung belum matang dan sering berubah-ubah, orang tua sering terjebak untuk menganggap ekspresi iman seorang anak sebagai sesuatu yang tidak perlu dianggap serius, atau sama sekali diabaikan. Sebaliknya, orang tua perlu mendorong setiap ekspresi iman dari anak-anak mereka, dan gunakan kesempatan tersebut untuk mengajar mereka lebih lagi mengenai Kristus dan Firman Tuhan. Ketika seorang anak terlihat ingin belajar mengenai Yesus, orang tua harus segera mengakomodasi kebutuhan tersebut, dan dorong mereka ketika mereka melihat adanya tanda awal menuju kelahiran baru. Perhatikan bahwa hal ini berbeda dengan memberi keyakinan yang salah bahwa seorang anak SUDAH lahir baru.
Orang tua mungkin merasa bahwa anaknya belum cukup matang untuk benar-benar mengerti mengenai keselamatan mereka, tetapi hal ini jangan membuat mereka menghalang-halangi ekspresi iman mereka, karena hal ini bisa menjadi bibit dari pertumbuhan pengertian dan iman mereka dikemudian hari. Tetap arahkan mereka menuju Kristus, ajar dengan tidak jemu-jemu kebenaran Firman dengan sabar dan tekun, ingat selalu akan Dia yang berkuasa untuk membuka hati buah hati kita kepada kebenaran Injil.
5. Mengandalkan Kedaulatan Mutlak Allah
Keselamatan adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak. Orang tua bertanggung jawab untuk memberitakan pesan Injil, mengajarkannya kepada mereka dan membimbing mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi tidak ada satu pun orang tua di muka bumi ini yang mampu melakukannya langkah yang terakhir kepada anak-anak mereka yaitu perubahan di dalam hati. Orang tua dapat memaksa atau membuat seorang anak menjadi 'Kristen', tetapi pertobatan dan kelahiran baru yang sejati hanya bisa dianugerahkan oleh Allah. Kelahiran baru adalah pekerjaan Roh Kudus saja (Yoh 3:8)
Oleh karena itu, keselamatan seorang anak tidak dihasilkan dari iman atau ketekunan orang tua, tetapi hanya dari karya anugerah Allah saja. Sebaik apapun pengajaran, keteladanan dan dorongan orang tua, langkah yang terakhir adalah murni dari Allah. Kenyataan ini seharusnya memberikan rasa damai sejahtera kepada orang tua, dan membuat orang tua lebih sungguh-sungguh lagi berdoa kepada Sang Juru Selamat sejati yang bekerja di tempat di mana orang tua tidak bisa melakukannya… di dalam hati anak-anak mereka.
Amin.
Daftar Pustaka:
• KOM 100 – Mengenal Allah dan Tinggal di Dalam Kristus, Divisi Pengajaran, Jakarta, 2006
• Bimbingan Pranikah (Buku Guru), Divisi Pengajaran, Jakarta, 2007
• Christopher B. Adsit, Personal Disciple-Making, Here's Life Publisher, California, 1988
• Evangelizing Your Kids, Pulpit Magazine, www.sfpulpit.com, 2007
No comments:
Post a Comment