“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." Matius 28:19,20Ayat di atas dikenal sebagai Amanat Agung Tuhan Yesus. Merupakan perintah Yesus sebelum Yesus naik ke sorga. Menarik untuk dicatat bahwa dalam ayat-ayat di atas, Tuhan Yesus memberikan suatu perintah, bukan permohonan, bukan permintaan, bukan himbauan dan juga bukan pilihan. Suatu perintah berarti harus dilaksanakan, dan jika tidak dilaksanakan berarti perintah tersebut dilanggar.
Bagi kita orang percaya, melaksanakan perintah Kristus, yaitu untuk menjadikan semua bangsa muridNya, dimulai dari rumah kita sendiri, mulai dari keluarga kita, terutama anak-anak kita. Seperti dicatat oleh Lukas ketika Yesus berkata kepada murid-muridnya:
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."Anak-anak kita adalah bagian dari Yerusalem kita. Sebagai orang tua, kita adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas hal yang sangat penting ini. Tentunya merupakan kebahagaian yang tidak ada taranya jika kita bisa melihat anak-anak kita menerima Keselamatan dalam Kristus.
Kisah 1:8
Salah satu pandangan keliru yang sering dimiliki oleh orang tua adalah menganggap bahwa anak-anak secara otomatis menerima keselamatan, dengan alasan orang tuanya sudah Kristen, atau karena anak tersebut rajin ikut sekolah minggu dan berdoa setiap hari. Tetapi Alkitab mencatat keselamatan hanya bisa diterima oleh seseorang dengan cara:
- Percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi
- Bertobat dari kehidupan lama
- Mengikut Yesus
Jadi keselamatan buah hati kita adalah suatu proses yang harus dilaksanakan sendiri dengan kesadaran dan pengertian sendiri. Kita sebagai orang tua memiliki tanggung jawab untuk memberikan pengertian yang benar, kemudian mendorong anak kita untuk menerima keselamatan.
Tetapi bagaimana caranya kita memberitakan Injil kepada anak-anak kita? Banyak pertanyaan yang menghantui para orang tua ketika menghadapi tugas ini. Bagaimana cara saya memberitakan Injil kepada mereka? Pendekatan apa yang paling baik? Kapan saya lakukan? Bagaimana saya tahu kalau saya sudah melakukannya dengan benar?
Ketakutan ini mengintimidasi banyak orang tua yang sebenarnya secara serius mencoba untuk memenuhi Amanat Agung dan melaksanakan tanggung jawabnya sebagai orang tua. Di satu sisi ada resiko dimana orang tua membuat anak merasa bahwa ia sudah diselamatkan padahal belum, atau anak dianggap sudah siap padahal belum mengerti dengan benar. Di sisi lain ada resiko orang tua membatasi keinginan anaknya yang benar-benar ingin menerima keselamatan, atau anak dianggap masih terlalu kecil padahal sudah memiliki pengertian yang benar.
Sebelum kita melihat bagaimana cara terbaik untuk memberitakan Injil kepada buah hati kita, marilah kita lihat terlebih dahulu kesalahan-kesalahan umum yang sering dilakukan orang tua.
1. Terlalu Menyederhanakan Injil Kristus
Karena kapasitas pengertian dari seorang anak masih terbatas dari pada kapasitas orang tua, banyak orang tua terjebak untuk terlalu menyederhanakan pesan Injil ketika mereka menyampaikannya kepada anak-anak mereka. Hal ini dilakukan dengan jalan menyingkat pesan Injil, meremehkan pentingnya Injil, atau bahkan menghilangkan bagian-bagian dari Injil.
Seperti orang dewasa, anak-anak juga harus menerima pengertian yang jelas dan benar sebelum mereka bisa diselamatkan. Hal ini termasuk memahami dengan akurat konsep-konsep seperti baik dan jahat, dosa dan akibat dosa, iman dan pertobatan, kekudusan Tuhan dan murkaNya terhadap dosa, ke-Tuhanan Yesus, karya pendamaianNya dan kebangkitanNya. Tentunya orang tua harus menggunakan istilah-istilah yang dapat diterima dan dikenal orang anak-anaknya, tetapi hal ini tidak berarti mengaburkan pesan Injil. Ulangan 6:6-7 mengatakan kita harus mengajarkan kepada anak kita secara menyeluruh, berulang-ulang sampai anak tersebut mengerti dengan lengkap dan benar.
Lebih berbahaya bagi orang tua untuk 'terlalu menyederhanakan pesan' Injil dari pada membuat pesan Injil 'terlalu rumit' bagi anak-anaknya. Kebenaran Firman Tuhan yang menyelamatkan harus dimengerti dengan lengkap dan benar.
2. 'Memaksakan' tindakan iman
Setelah orang tua menyampaikan pesan Injil, banyak yang kemudian meminta anak-anaknya untuk merespon dengan tindakan iman. Misalnya dengan meminta mereka mengangkat tangan jika mereka ingin diselamatkan, atau dengan mengajak mereka dalam doa pertobatan, atau apa saja yang bisa diartikan sebagai tindakan iman bahwa mereka percaya dan menerima keselamatan. Anak-anak hampir selalu meresponi ajakan ini, apalagi ajakan dari orang tua mereka, tetapi hal itu tidak menjamin bahwa itu adalah tindakan iman yang tulus keluar dari anak tersebut dan dari pengertian anak tersebut.
Jadi daripada meminta anak kita untuk meresponi dengan tindakan iman, orang tua sebaiknya dengan iman dan penuh kesabaran tetap mengajarkan injil secara menyeluruh dan berdoa dengan sungguh-sungguh untuk keselamatan mereka. Ingatlah selalu bahwa Tuhanlah yang menyelamatkan buah hati kita. Tidak perlu menekan atau memaksa mereka untuk menerima keselamatan dengan mengharapkan pengakuan iman mereka, karena pertobatan yang sejati akan keluar dengan sendirinya pada saat Tuhan membuka hati mereka terhadap pesan Injil.
3. Membuat Asumsi Sudah Lahir Baru
Kesalahan berikutnya adalah membuat asumsi bahwa respon positif seorang anak terhadap Injil menjadi jaminan bahwa anak tersebut sudah lahir baru. Orang tua terjebak dengan asumsi bahwa keselamatan anak mereka sudah selesai hanya karena anak tersebut memperlihatkan tindakan yang menunjukkan bahwa mereka sudah percaya. Tetapi seseorang tidak dapat berasumsi bahwa semua tindakan iman otomatis menunjukkan karya sejati Allah dalam hidup mereka (Mat 7:21-23), hal ini lebih nyata kita dapati pada anak-anak.
Anak-anak sering kali memberikan respon iman positif terhadap Injil bukan karena mereka mengerti keadaan mereka yang berdosa, atau pengertian mengenai keselamatan yang benar. Banyak anak-anak mengaku sudah percaya dan selamat hanya karena ikut tren, ikut teman, karena tidak mau dianggap beda di Gereja, atau hanya karena ingin menyenangkan orang tua mereka.
Alkitab juga mencatat bahwa anak-anak cenderung tidak matang (I Kor 13:11, 14:20), polos (Ams 1:4), bodoh (Ams 22:15), liar, sukar ditebak, tidak konsisten, cepat berubah (Mat 11:16-17), tidak stabil dan gampang ditipu (Ef 4:14). Anak-anak sering merasa bahwa mereka sudah mengerti seluruh konsekuensi dan akibat dari sebuah komitmen padahal sebenarnya mereka tidak mengerti. Penilaian mereka dangkal dan kemampuan yang lemah untuk melihat akibat dari pilihan-pilihan mereka. Walaupun maksud mereka murni, anak-anak sering tidak punya kemampuan untuk memikirkan hari esok, mereka juga tidak dapat memahami seberapa besar akibat dari pilihan mereka di hari depan. Hal ini menyebabkan anak-anak rentan terhadap kesesatan akibat rasa percaya diri yang tinggi, dan hal ini menyulitkan orang tua untuk membedakan apakah ini karya sejati Tuhan dalam hati mereka.
Orang tua dapat melihat apakah anak mereka benar-benar sudah mengerti pesan Injil ketika anak-anak tersebut memperlihatkan dan mengimplementasikan iman mereka dalam tindakan dan kejadian sehari-hari. Walaupun banyak orang yang sudah percaya dan menerima keselamatan pada waktu mereka masih kecil, lebih banyak lagi yang baru benar-benar mengerti dengan sungguh pesan Injil ketika mereka sudah menginjak usia remaja/dewasa. Ada juga mereka yang menerima Kristus ketika kanak-kanak, menjadi orang tidak percaya ketika dewasa. Oleh karena itu lebih bijaksana bagi orang tua untuk berjalan dengan hati-hati dalam menyatakan bahwa seorang anak sudah benar-benar lahir baru dan tidak terburu-buru menerima tindakan iman sebagai bukti dari kelahiran baru.
4. Memaksakan Keyakinan Keselamatan kepada Anak
Setelah orang tua merasa yakin bahwa anaknya sudah selamat, kebanyakan mereka kemudian merasa perlu untuk meyakinkan anak mereka bahwa mereka sudah selamat. Sebagai akibatnya, gereja dipenuhi dengan jemaat yang hatinya tidak sungguh-sungguh dipenuhi oleh kasih kepada Kristus, tetapi yang merasa bahwa mereka adalah orang-orang Kristen sejati karena keselamatan adalah sesuatu hal yang mereka sudah lakukan ketika mereka kecil.
Kepastian keselamatan adalah tugas dari Roh Kudus, bukan tugas orang tua (Rom 8:15-16). Banyak orang yang tidak memiliki Roh Kudus dalam hatinya merasa bahwa mereka akan masuk sorga hanya karena pada waktu mereka kecil mereka sudah mengucapkan “mengundang Yesus masuk ke dalam hati”. Mereka sebenarnya menerima kepastian yang palsu dan mereka kemudian sering diajak untuk tidak mempertanyakan keyakinan keselamatan mereka. Orang tua sebaiknya bersukacita hanya ketika mereka dengan pasti tahu bahwa anak-anak mereka mengerti pesan Injil dengan lengkap dan benar, mempercayai pesan Injil tersebut, memperlihatkan kesaksian sejati dari iman mereka yaitu hubungan dengan Kristus, ketaatan kepada FirmanNya dan mengasihi sesama.
5. Terburu-buru Melakukan Baptisan Air
Kesalahan terakhir dari banyak orang tua adalah langsung menyuruh anak mereka melakukan baptisan air setelah mereka percaya. Memang Alkitab memerintahkan setiap orang percaya untuk dibaptis (Mat 28:19, Kis 2:38), tetapi lebih bijaksana untuk tidak terburu-buru melakukannya kepada anak-anak. Seperti sudah banyak dibahas sebelumnya, sangat sulit untuk membedakan respon iman sejati dari seorang anak. Lebih baik mengambil waktu untuk terus memberikan pengertian (Ul 6:6-7) kepada mereka dan tunggu hingga mereka menunjukkan respon iman yang sejati dan langgeng. Walaupun seorang anak dapat mengatakan bahwa ia sudah cukup mengerti pesan Injil, baptisan sebaiknya menunggu hingga anak tersebut memperlihatkan bukti-bukti kelahiran baru yang memang tidak karena akibat pengaruh orang tuanya.
Karena baptisan adalah suatu tindakan yang kelihatan, dikhawatirkan seorang anak yang sebenarnya belum lahir baru merasa sudah diselamatkan hanya karena mereka sudah dibaptis. Dalam hal ini baptisan justru menjadi sesuatu hal yang merugikan mereka sendiri. Lebih baik menunggu sampai mereka mengerti dengan benar mengenai keselamatan dan juga mengenai arti dari tindakan baptisan itu sendiri.
Setelah kita belajar dari kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh orang tua, dalam artikel berikutnya, kita akan belajar mengenai cara memberitakan Injil Keselamatan Yesus Kristus kepada buah hati kita.
Daftar Pustaka:
• KOM 100 – Mengenal Allah dan Tinggal di Dalam Kristus, Divisi Pengajaran, Jakarta, 2006
• Bimbingan Pranikah (Buku Guru), Divisi Pengajaran, Jakarta, 2007
• Christopher B. Adsit, Personal Disciple-Making, Here's Life Publisher, California, 1988
• Evangelizing Your Kids, Pulpit Magazine, www.sfpulpit.com, 2007
No comments:
Post a Comment