Beberapa waktu yang lalu saya sudah menulis artikel mengenai lagu "I Can Only Imagine", berikut ini saya buatkan tulisan yang lebih lengkap mengenai Rick dan Dick Hoyt.
Rick, anak laki-laki sulung pasangan Dick dan Judy Hoyt, mengalami kelahiran yang tidak lancar. Lehernya terjerat tali pusar pada saat keluar dari rahim sehingga pasokan oksigen ke otak terputus beberapa saat. Akibatnya Rick menderita lumpuh dan bisu. Dokter mengatakan bahwa Rick tidak mungkin menjalani hidup normal, ia tidak mungkin pergi ke mana-mana, selalu tergantung kepada orang lain. Rick tidak lebih dari seonggok daging yang bernafas.
Mereka tidak menyerah begitu saja kepada pendapat dokter, sebaliknya mereka justru bertekad untuk membesarkan Rick sedapat mungkin sama seperti anak normal lainnya. Pasangan Dick dan Judy juga memiliki dua anak lagi dan mereka tidak membedakan kasih sayang dan perhatian mereka kepada anak-anak mereka. Dick dan Judy berpendirian bahwa kelemahan Rick tidak akan membuatnya terbatas untuk melakukan segala sesuatu dan bahwa Rick memiliki kemampuan intelektual yang sama dengan anak-anak lain yang sebaya.
Sekelompok insinyur dari Universitas Tuft yang mendengar kisah keluarga Hoyt membuatkan Rick sebuah komputer khusus sehingga Rick bisa menuliskan apa yang ingin dikatakannya. Dengan menggerakan kepalanya kepada sebuah sensor, kata pertama yang ditulis oleh Rick adalah “Go Bruins!” Ternyata diketahui bahwa Rick adalah penggemar olah raga yang cukup fanatik karena “Bruins” adalah nama Tim Hockey dari Boston. Sejak itu interaksi dengan Rick semakin menunjukkan minatnya kepada dunia olah raga.
Lomba Pertama
Pada tahun 1975, Rick dapat diterima di sekolah publik. Dua tahun kemudian Rick memberitahu ayahnya bahwa ia ingin ikut serta dalam lomba Marathon untuk amal. Dick yang bukan olah ragawan bersedia untuk mendorong Rick di atas kursi roda. Walaupun finish diurutan kedua dari akhir, tetapi pada hari itu mereka merasa seperti pemenang. Rick mengungkapkan bahwa pada saat mereka berlomba, Rick merasa bahwa ia bukan orang cacat.
Hal tersebut membawa Rick dan keluarganya ke dalam suatu dunia yang baru. Lahirlah “Team Hoyt” yaitu pasangan Rick dan Dick yang ikut dalam berbagai lomba marathon. Banyak tantangan dan rintangan pada awal-awal perjalanan Team Hoyt. Peserta lain kebanyakan tidak menganggap mereka, tidak mau berurusan dengan mereka dan bahkan tidak menginginkan mereka ikut lomba. Tetapi perhatian mulai muncul kepada Team Hoyt ketika mereka menyelesaikan Boston Marathon pada tahun 1981 di posisi yang cukup baik.
Setelah empat tahun ikut marathon, Team Hoyt mencoba ikut dalam Triathlon (Tri Lomba). Untuk bisa ikut, Dick harus belajar berenang lagi, dan terakhir Dick naik sepeda adalah ketika ia berumur 6 tahun. Dengan sepeda yang khusus dibuat untuk membawa Rick dibagian depan, dan sebuah perahu yang diikat pada pinggang Dick, Team Hoyt finish pada urutan kedua dari akhir dalam Triathlon hari Ayah pada tahun 1985. Jenis Triathlon yang paling berat yang mereka ikuti adalah Ironman Triathlon, yaitu tri-lomba yang terdiri dari berenang sejauh 3,8 km, bersepeda 180 km dan marathon sejauh 42 km. sebagai perbandingan, jarak dari Jakarta ke Bandung kira-kira 128 km sedangkan jarak Jakarta ke Bogor adalah sekitar 48 km. Pada saat mereka finis Ironman Triathlon pertama mereka, pada tahun 1988 di Kona, Hawaii, tidak ada satupun mata yang tidak menitikan air mata melihat perjuangan mereka, melihat kasih antara ayah dan anak.
Sejak itu mereka terus ikut dalam berbagai Marathon dan Triathlon baik di dalam maupun luar negeri. Mereka bahkan bisa memperbaiki catatan waktu finish mereka. Dick mengatakan “Rick yang memberikan inspirasi dan motivasi bagi saya, bagaimana dia begitu menyukai olah raga dan kompetisi.” Sedangkan Rick sendiri mengatakan “Ayah adalah teladan saya. Ketika ia sudah memutuskan sesuatu, maka ia akan melakukannya sampai selesai.”
Rick sendiri memiliki prestasi yang mengagumkan. Rick lulus dari Universitas Boston pada tahun 1993 dengan menyandang gelar Sarjana Pendidikan Khusus. Selain itu Team Hoyt juga berkeliling sebagai pembicara.
Hati Bapa
Jika ada satu hal yang dapat kita pelajari sebagai anak-anak Tuhan adalah, jika seorang bapa di dunia ini, seorang manusia biasa, bisa membuat pengorbanan sedemikian rupa demi anaknya, apalagi Bapa kita yang di Sorga. Nasib manusia sebenarnya sangat mirip dengan Rick Hoyt yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi menolong dirinya sendiri.
Tetapi karena kasih Bapa kita bisa memiliki kesempatan untuk menjalani hidup yang berarti, hidup yang memiliki dampak, hidup yang memiliki tujuan yaitu lewat pengorbanan-Nya di kayu salib. Tidak ada satupun hal yang dapat kita lakukan kecuali seperti Rick, tetap ikut dalam segala pertandingan dan perlombaan dalam hidup ini. Jangan menyerah karena pada dasarnya Allahlah yang mengerjakannya untuk kita sehingga walaupun kita tidak berdaya, bersama Allah Bapa, kita bisa bersama-sama sampai di garis akhir. <.ptk>





No comments:
Post a Comment