“Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah. “ – I Korintus 1:26-29
Seringkali yang menjadi masalah utama bagi para remaja dan pemuda adalah bagaimana “dapat diterima” oleh teman-teman mereka yang lain, baik itu di sekolah atau dalam lingkungan tempat tinggal mereka. Perhatian mereka tertuju kepada hal-hal seperti; bagaimana berpenampilan menarik, memiliki banyak teman terutama yang paling populer, dan memakai baju dengan desain paling moderen. Namun apakah hal-hal tersebut berguna? Apakah hal-hal tersebut layak didambakan oleh generasi muda saat ini? Belum lagi kesulitan dan tekanan yang dihadapi oleh mereka untuk mendapatkan hal-hal tersebut.
Padahal hal-hal tersebut sering kali hanya bersifat sementara dan akan terus berubah. Sebagai contoh, baju-baju buatan desainer yang mahal akan dengan cepat menjadi kuno seiring dengan berjalannya waktu. Penampilan pasti berubah seiring dengan bertambahnya umur. Popularitas tidak akan bertahan selamanya. Mengejar hal-hal tersebut untuk “dapat diterima” dengan teman-teman yang lain adalah seperti berlomba menuju garis finish yang sebenarnya tidak pernah ada karena selalu berubah sepanjang masa. Lebih lagi, tidak ada jaminan bahwa hal-hal tersebut akan membuat seseorang “diterima” di antara teman-temannya.
Generasi muda Kristen seharusnya memiliki tujuan bukan supaya “dapat diterima” dalam pergaulan dunia, tetapi sebaliknya justru untuk “menjadi teladan”. Cara berpikir seperti ini akan membuat anak muda Kristen menjadi lebih bijaksana, kokoh dan mampu bertahan terhadap perubahan situasi dan kondisi. Sikap “menjadi teladan” akan menimbulkan sifat-sifat dan karakter yang akan membantu anak muda memiliki keyakinan yang teguh.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. – Rom 12:2
Sayangnya hal ini justru paling ditakuti oleh anak-anak muda, mereka lebih suka ikut dalam arus, menjadi sama dengan teman-teman mereka, dari pada menjadi berbeda, apalagi menjadi teladan bagi teman-teman mereka. Namun bagi orang Kristen yang memiliki iman percaya yang teguh, pembentukan karakter anak muda seperti ini, dimana kerohanian mereka bertumbuh menjadi dewasa dalam persekutuan dengan sahabat-sahabat yang memiliki iman yang sama, maka sebenarnya mereka sedang membangun pondasi bagi masa depan yang cerah.
Menjadi Teladan
Contoh terbaik dari mereka yang memilih untuk menjadi teladan dari pada ikut dalam arus adalah keduabelas murid Yesus. Sebelum mereka dipanggil, mereka adalah orang-orang biasa yang juga ikut dalam arus dan tradisi yang berlaku di tengah masyarakat pada masa itu. Beberapa dari mereka adalah nelayan, sebagian besar berasal dari Galilea. Sebelum menjadi murid dan mendapat kehormatan dari Allah untuk menulis Injil, Matius adalah seorang Yahudi pemungut cukai yang tidak begitu disukai oleh orang-orang. Di mata orang Yahudi, pemungut cukai adalah kasta yang paling rendah, mereka tidak punya banyak teman dan kemungkinan tidak diperbolehkan masuk ke dalam rumah ibadat. Tetapi dengan ilham Roh Kudus melalui tangannya sendiri, Matius menulis:
“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.” – Matius 9:9
Apa yang membuat mereka menjadi teladan
Jawabannya adalah komitmen mereka untuk mengikuti Yesus. Mereka tidak mengenal kata menyerah atau berusaha setengah-setengah, tetapi dengan sepenuh hati menjalankan misi mereka. Kesetiaan mereka kepada Tuhan membuat mereka tidak tertarik kepada ketenaran yang ditawarkan dunia, mereka juga tidak khawatir akan apa yang mereka atau orang lain miliki. Mereka tidak membiarkan rasa iri dan dengki masuk ke dalam hati mereka, mereka menjaganya agar tetap tulus untuk melayani Tuhan.
Seiring dengan bertumbuhnya iman mereka, dan ketika tujuan hidup mereka menjadi semakin jelas, mereka tidak lagi berpikir untuk “dapat diterima” oleh dunia tetapi berubah agar “menjadi teladan” bagi dunia. Mereka bahkan siap mati demi Kristus karena kesetiaan dan komitmen mereka, dengan satu tujuan yaitu masuk kedalam kebahagiaan Allah Bapa di Sorga (Mat 25:21) Mereka sedang berjalan menuju kemenangan karena mereka memberikan diri dipimpin oleh Roh Kudus.
Oleh karena itu, dengan mentaati dan mengikuti Tuhan Yesus Kristus dan “menjadi teladan”, keduabelas murid diubahkan menjadi pemimpin-pemimpin gereja yang dihormati, dimana pengajaran mereka memiliki otoritas yang tinggi dalam gereja mula-mula. Pada saat ini, hampir seluruh dunia sudah mendengar dan mengenal nama mereka da apa yang sudah mereka lakukan. Bagaimana pengorbanan mereka hingga mati sebagai martir. Pengajaran mereka yang diilhami oleh Roh Kudus menjadi pengajaran dasar bagi gereja mula-mula (Kis 2:42). Seluruh isi kitab-kitab perjanjian baru ditulis oleh para rasul atau orang-orang yang dekat dengan mereka.
Tuhan memberikan kuasa dan kemampuan kepada duabelas orang sederhana untuk memberitakan kabar baik, mendirikan gereja, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, bahkan melihat bagaimana Yesus dimuliakan di atas bukit. Pada awalnya mereka harus belajar bagaimana berdoa, bagaimana mengampuni orang lain, melayani dan memberitakan kabar baik. Dalam waktu hanya beberapa tahun mereka sudah dapat membuat banyak manusia bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus.
Siapa yang memampukan mereka?
Tuhan sendirilah yang memampukan dan membentuk pada murid sehingga mereka bisa menjadi teladan di tengah-tengah dunia. Tuhan memilih mereka dari kalangan orang biasa, bukan dari sinagoga, bukan dari orang-orang terpelajar atau terkenal, bukan orang-orang yang memiliki talenta luar biasa atau mereka yang memiliki kekayaan. Ia memilih pengikutnya dari orang-orang yang sederhana yang dengan rela mau mengikuti-Nya bahkan mati bagi-Nya.
Ikut Yesus identik dengan tantangan bukan kekayaan duniawi, penolakan oleh dunia bukan kepopuleran. Mengikut Tuhan berarti bertumbuh lewat pengorbanan, belajar lewat kesabaran dan menjadi iman yang dewasa lewat mendengar dan melakukan Firman Tuhan. Mengikut Kristus berarti menjadi teladan bagi dunia ini, bukan menjadi sama dengan dunia ini.
Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu. – 1 Timotius 4:12
PS: Artikel ini juga dimuat dalam Majalah Change!, Oktober 2008
No comments:
Post a Comment