Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku. Sungguhpun demikian keadaan tubuhku itu, yang merupakan pencobaan bagi kamu, namun kamu tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan yang menjijikkan, tetapi kamu telah menyambut aku, sama seperti menyambut seorang malaikat Allah, malahan sama seperti menyambut Kristus Yesus sendiri. Betapa bahagianya kamu pada waktu itu! Dan sekarang, di manakah bahagiamu itu? Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku.
Galatia 4:13-16
Latar Belakang
Ayat-ayat di atas adalah tulisan Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia. Jika kita perhatikan maka ayat-ayat ini berbicara begitu dalam. Jika kita perhatikan, begitu banyak makna yang dapat kita pelajari mengenai kondisi Paulus, kondisi jemaat Galatia dan bagaimana Paulus begitu mengasihi jemaat Galatia dan begitu sedih dengan kondisi mereka.
Menurut catatan sejarah, orang Galatia berasal dari daerah Gaul, yaitu pesisir barat dari Perancis yang datang ke daerah Asia Kecil (sekarang Turki) kira-kira 300 tahun sebelum masehi. Mereka berbicara menggunakan bahasa Yunani yang merupakan bahasa resmi pada jaman rasul Paulus. Orang Galatia menerima injil dari rasul Paulus sendiri seperti dikatakan pada ayat 13, ia datang ke daerah Galatia paling tidak dua kali (Kis 16:6 dan Kis 18:23).
Surat kepada jemaat Galatia ini kemungkinan besar ditulis segera setelah Injil diberitakan pada jemaat Galatia, karena Rasul Paulus menegur mengapa jemaat Galatia begitu berubah dari Injil Kristus kepada injil yang lain. Hal ini ditulis pada pasal 1 ayat 6 “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain.”
Jika kita pelajari surat Galatia secara keseluruhan maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa segera setelah Rasul Paulus memberitakan Injil dan mendirikan Jemaat Galatia, ada pengaruh yang datang dari guru-guru orang Yahudi yang mengajarkan bahwa untuk mendapatkan keselamatan, mereka juga harus mentaati hukum Taurat dan tradisi Yahudi. Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran Paulus sehingga Paulus harus mengirimkan surat untuk menegur mereka.
Dalam suratnya Paulus memperlihatkan bahwa orang berdosa dibenarkan (Justification) bukan karena menjalankan hukum Taurat tetapi karena kasih karunia semata oleh pengorbanan Yesus di kayu salib (Gal 2:16). Tujuan utama dari hukum Taurat adalah penghukuman bukan pembenaran (Gal 3:19). Dan yang berikutnya Rasul Paulus memperihatkan bahwa orang percaya disempurnakan bukan karena mentaati hukum Taurat tetapi karena pengudusan (Sanctification) oleh karya Roh Kudus (Gal 5:16-26, bdk. 1 Pet 1:2, 2 Tes 2:13).
Ketidakberdayaan Yang Memenangkan
Namun ada satu hal yang menarik dari surat kepada jemaat Galatia ini, yaitu bagaimana kenyataan bahwa Rasul Paulus mengabarkan Injil pertama kali kepada mereka karena alasan kesehatan. Ayat 13 mencatat “Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu oleh karena aku sakit pada tubuhku.” Jadi pada waktu itu Rasul Paulus kemungkinan besar sedang melewati daerah Galatia pada perjalanan penginjilannya dan terserang sakit sehingga ia terpaksa tinggal untuk sementara waktu di daerah Galatia. Pada saat itulah Paulus memberitakan injil dan mendirikan jemaat Galatia.
Sakit yang diderita oleh Paulus ternyata cukup berat hal ini dinyatakan oleh Paulus sendiri yang mengatakan bahwa kondisi kesehatannya menjadi “pencobaan” bagi jemaat Galatia namun mereka tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang hina dan menjijikan. Memang tidak disebutkan dengan jelas apa penyakit yang diderita oleh Paulus ada kemungkinan terkait dengan apa yang Paulus sebut “duri dalam daging” (2 Kor 12:7-10).
Dalam masa pemerintahan kekaisaran Romawi, orang-orang yang lemah dan cacat seringkali dipandang sebagai kaum yang hina dan bahkan disisihkan karena dianggap menjijikan dan menyusahkan. Orang Romawi sering mengumpankan orang-orang cacat dan sakit kepada singa, harimau dan binatang buas lainnya dalam pertunjukan di arena Colesseum. Mereka dicabik-cabik oleh binatang buas atau dibunuh dengan pedang oleh Gladiator sebagai hiburan bagi orang-orang yang dalam kondisi lebih 'sehat' dan lebih 'mampu'.
Hal seperti ini sering terulang dalam sejarah. Pada masa perang dunia ke dua, Hitler dan pemerintahan Nazi Jerman mengumpulkan orang-orang cacat dan lemah untuk dijadikan kelinci percobaan. Anak-anak yang cacat tulangnya dipatahkan berulang kali hanya untuk mempelajari seberapa cepat tulang mereka pulih kembali.
Bahkan sampai sekarang, masih banyak negara yang mengabaikan orang-orang lemah dan cacat. Mereka dianggap sebagai beban dan sering disingkirkan. Memang banyak juga negara yang sudah memperhatikan kebutuhan orang cacat seperti negara tetangga di Singapura, dimana fasilitas untuk orang cacat benar-benar diperhatikan, mulai dari trotoar yang memiliki jalur khusus untuk para tuna netra hingga toilet khusus penderita cacat. Namun tidak semua negara maupun orang dalam komunitas kita sehari-hari dapat menerima orang lemah dan cacat. Ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi.
Namun jemaat di Galatia dapat menerima kelemahan Paulus bahkan sedemikian jauhnya perhatian mereka Paulus mengatakan dalam ayat 15, “Karena aku dapat bersaksi tentang kamu, bahwa jika mungkin, kamu telah mencungkil matamu dan memberikannya kepadaku.” Dari ayat ini ada beberapa penafsiran bahwa kemungkinan sakit yang diderita oleh Paulus adalah penurunan daya lihat. Petunjuk yang lebih mengejutkan adalah pada pasal 6 ayat ke 11 “Lihatlah, bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri.”
Rasul Paulus biasanya menggunakan jasa penulis tetapi karena karena pentingnya pesan untuk jemaat Galatia ini, ada kemungkinan, bahwa Paulus dengan segala kelemahannya menulis surat tersebut dengan tangannya sendiri. Ia harus menulis dengan huruf-huruf yang besar karena daya penglihatannya yang sudah sangat berkurang. Hatinya kepada jemaat Galatialah yang mendorong Paulus melakukan hal tersebut.
Teladan Bagi Orang Dengan Ketidakmampuan
Tidak seperti kita pada umumnya, pada saat memiliki hambatan atau ketidakmampuan Rasul Paulus tidak bersembunyi dan mencari-cari alasan karena ketidakmampuannya. Membaca surat-surat dan catatan mengenai Rasul Paulus kita memiliki gambaran seseorang yang berani, dan teguh. Jarang sekali kita mendapat gambaran bahwa Rasul Paulus adalah seseorang dengan ketidakmampuan. Dapat dibayangkan bagaimana pada zaman itu sesorang penginjil dan penanam gereja memiliki hambatan dalam hal penglihatan. Apalagi dia banyak menulis surat-surat kepada tubuh Kristus. Tentunya bagi banyak orang hal ini dapat membuat mereka mundur.
Rasul Paulus tidak melihat hal tersebut sebagai hambatan. Ia sadar bahwa dalam kelemahannya Tuhan Yesus Kristus akan ditinggikan (2 Kor 12:9). Rasul Paulus menjadi teladan bagi orang-orang yang cacat dan memiliki kelemahan.
Banyak orang yang cacat atau dengan kelemahan justru menjadi teladan bagi orang lain, beberapa edisi yang lalu kita membahas bagaimana Dick dan anaknya Rick Hoyt yang lumpuh dapat ikut dalam Trilomba.
Atlet paralympic (Olimpiade untuk orang cacat) Evan O'Hanlon dari Australia memiliki Cerebral Palsy, tetapi ia dapat menyelesaikan lomba lari 100 meter hanya dalam 10.96 detik. Sebagai catatan, waktu tercepat dalam Olimpiade Beijing 2008 untuk nomor 100 meter putra dibukukan oleh Usain Bolt dari Jamaika dengan waktu 9.69 detik. Sedangkan catatan waktu untuk putri dibukukan oleh Florence Griffith Joyner dari AS dengan 10.49 detik. Catatan waktu Evan sama sekali tidak jauh dari catatan waktu atlit normal.
Oscar Pistorius dari Republik Afrika Selatan mencatat waktu 11.16 detik untuk lomba lari 100 meter pada Paralympics di Beijing 2008, dengan kaki buatan pada kedua kakinya yang diamputasi.
Hee-Ah Lee dari Korea bisa memainkan konser piano klasik selama 3 jam padahal ia lahir tanpa kaki dan hanya memiliki 2 jari pada masing-masing tangannya. Ketika ia selesai konser, para penonton memberikan standing applause yang sangat lama dan meriah, mereka benar-benar kagum kepada anak perempuan berumur 15, tanpa kaki, hanya 4 jari tangan tetapi dapat dengan luar biasa memainkan karya paling kompleks dari komposer-komposer ternama dalam sejarah.
Ability not Disability
Apakah yang membuat Rasul Paulus serta orang-orang yang dalam keterbatasan dapat berbuat sedemikian luar biasa? Bahkan apa yang mereka kerjakan kadang-kadang jauh melebihi apa yang orang-orang yang dalam keadaan lebih normal dapat kerjakan. Jawabannya adalah karena mereka melihat apa yang mereka bisa lakukan dengan segala keterbatasan mereka daripada hanya melihat apa yang tidak bisa mereka lakukan.
Mereka melihat realitas dunia mereka dengan kacamata yang berbeda dengan apa yang dilihat oleh manusia pada umumnya. Jika orang lain melihat bahwa mereka bisa melakukan segala sesuatu karena hal tersebut adalah hal yang wajar dilakukan oleh manusia, maka orang-orang luar biasa ini melihat bahwa bagi mereka adalah sebuah anugerah jika mereka bisa berjalan seperti orang normal atau bermain piano seperti orang dengan jari jemari yang lengkap. Hal ini yang mendorong mereka untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan dengan segala keterbatasan mereka.
Mereka menolak untuk meratapi nasib mereka dan terpuruk dalam ketidak berdayaan. Dengan keteguhan hati mereka bertekad untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kasih yang membuat mereka justru menjadi teladan bagi orang lain bukan menjadi beban.
Supaya Nama Tuhan Dipermuliakan
Ketika Yesus dan murid-muridnya di Yerusalem, mereka melewati seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-muridnya kemudian bertanya kepada Yesus "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Tetapi Yesus menjawab “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Yoh 9:1-3)
Ada banyak orang yang melihat bahwa sakit penyakit, cacat, keterbatasan adalah hukuman dari Allah, bahkan banyak yang menghakimi orang tersebut, atau orang tuanya atau bahkan menyalahkan Allah dengan mengatakan bahwa Allah tidak adil. Namun Alkitab berkata tidak ada seorangpun yang adil di alam semesta ini kecuali Allah. Justru kita harus melihat segala keadaan tersebut sebagai anugerah yang luar biasa yaitu kesempatan untuk dipakai menjadi alat untuk kemuliaan Allah.
Sesungguhnya tidak ada manusia yang tidak terbatas di dunia ini. Tidak hanya orang yang cacat atau sakit saja, namun setiap kita pasti punya keterbatasan dan kelemahan. Justru dalam keterbatasan dan kelemahan kita maka pada saat itulah kita dapat merasakan kekuatan yang dari pada Allah. Kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu orangpun yang sempurna, setiap kita pasti memiliki kelemahan dan keterbatasan itulah sebabnya kita dipanggil untuk saling menolong dan saling memperlengkapi satu sama lain.
Rasul Paulus bersaksi mengenai kehidupannya:
Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.
Flp 1:20-22a
Jika saja Rasul Paulus memilih untuk menyerah kepada kondisi tubuhnya tentunya kita akan melihat karya-karya maupun tulisannya. Jika ia tidak diijinkan Allah untuk mengalami sakit, ia tidak akan berhenti di Galatia dan mendirikan jemaat di sana. Bahkan sampai pada saat ia harus mengalami hukuman mati sebagai martir, nama Tuhan dimuliakan, kekristenan berkembang semakin pesat bahkan bisa kita nikmati sekarang.
Jika kita harus mengalami keterbatasan maka itu adalah kesempatan emas untuk memuliakan Allah. Seluruh hidup kita harus menjadi kesaksian bagi Allah, dalam keadaan apapun juga, bahkan sampai pada akhir hidup kita, supaya lewat kehidupan kita banyak orang menjadi percaya dan diselamatkan, dan kita menjadi persembahan yang harum bagi Allah.
Amin.
PS: Artikel ini juga dimuat dalam Majalah Change!, November 2008



No comments:
Post a Comment