Monday, November 1, 2010

Untung atau Malang?

Ada sebuah cerita lama yang mungkin sudah sering didengar, berikut salah satu versinya: 
Di sebuah dusun miskin, tinggallah seorang petani bersama istri dan satu anak laki-lakinya yang sudah beranjak dewasa. Menurut ukuran status sosial di desa, keluarga petani itu termasuk keluarga kaya karena rumahnya besar, kebunnya luas, dan sawahnya berterbaran di sekitar desanya. Petani itu juga memiliki seekor kuda betina.

Pada suatu hari kuda petani itu raib. Tak seorang pun tahu bagaimana kuda itu dapat lepas dan ke mana larinya, atau siapa yang melepaskan dan ke mana membawanya. Mendengar peristiwa yang menimpa petani itu, tetangga-tetangga berdatangan ke rumahnya untuk ikut bersimpati atas peristiwa yang menimpanya.

“Sunggh malang,” bisik para tetangga.

“Malang?” kata petani. “Mungkin saja.”

Beberapa hari kemudian, tanpa ada orang yang mencari dan menuntun pulang, kuda itu kembali sendiri ke rumah, malah membawa serta dua kuda jantan liar. Para tetangga berlarian ke rumah petani itu untuk melihat kuda-kuda itu.

“Wah, untung sekali,” celetuk para tetangga.

“Untung?” jawab petani itu. “Mungkin saja.”

Keesokan harinya, terdorong oleh nafsu berpetualangnya, anak laki-lakinya mengambil satu dari dua kuda liar itu untuk dijinakkan. Namun, ketika anak itu duduk di punggung kuda, seketika itu juga kuda itu menggelepar, menungging-nunggingkan kepalanya, dan mengangkat-angkat pinggulnya, lalu lari seperti kesetanan. Anak itu terpental dari kuda, melayang di udara, lalu jatuh terbanting di tanah dan patahlah satu kaki anak itu.

Mendengar berita musibah itu, para tetangga berduyun-duyun menuju ke rumah petani untuk ikut bersedih atas musibah yang menimpa anaknya. Mereka melihat anak itu terbaring di tempat tidur dengan kaki terbebat dan terus-menerus mengerang-ngerang kesakitan.

“Sunggu malang,” kata para tetangga, “satu-satunya anak laki-laki jatuh dan patah kaki!”

“Malang?” jawab petani itu. “Mungkin saja.”

Beberapa bulan kemudian datanglah utusan raja ke desa dengan perintah untuk mencari pemuda-pemuda guna direkrut menjadi prajurit dan dikirim ke medan perang di negeri seberang. Dari desa itu, utusan raja berhasil mendapatkan sejumlah pemuda. Tetapi ketika tiba di rumah petani, utusan raja tidak memilih anak laki-laki itu untuk direkrutnya karena kakinya pincang akibat jatuh dari punggung kuda.

Para tetangga yang anak laki-lakinya dibawa ke medan perang datang ke rumah sang petani.

“Untung sekali kamu,” kata mereka, “anakmu tidak dikirim ke medan perang.”
 
“Untung?” jawab petani itu. “Mungkin saja”

Sewaktu menghadapi peristiwa-peristiwa di dalam hidup, sebaiknya tidak cepat-cepat menjatuhkan penilaian. Biarlah waktu ikut menunjukkan maknanya.

Sumber: Konferensi Tikus-Tikus: Kumpulan Cerita, oleh Agus M. Hardjana. Kanisius, 2002. Hal 58.
Cerita di atas adalah cerita yang sudah lama dan beredar dalam banyak versi, tetapi moral of the story-nya tetap sama yaitu janganlah kita cepat-cepat membuat asumsi atau kesimpulan. 

Kalau kita mempelajari kitab Ayub kita akan menemukan tema yang sama. Memang ketika kita membahas kitab Ayub banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, tetapi saya tertarik dengan respon dari empat teman Ayub.
  • Elifas orang Teman menilai Ayub pasti berdosa
    Orang yang tidak bersalah diluputkan-Nya: engkau luput karena kebersihan tanganmu. – Ayub 22:30
  • Bildad orang Suah menilai Ayub adalah orang yang munafik
    Sungguh, demikianlah tempat kediaman orang yang curang, begitulah tempat tinggal orang yang tidak mengenal Allah. – Ayub 18:21
  • Zofar orang Naama menilai Ayub adalah orang yang fasik
    Itulah ganjaran Allah bagi orang fasik, milik pusaka yang dijanjikan Allah kepadanya. – Ayub 20:29
Sedangkan teman Ayub yang keempat, yaitu Elihu orang Bus, memiliki pandangan yang berbeda terhadap kondisi yang dihadapi oleh Ayub. Secara garis besar Elihu memiliki keyakinan sebagai berikut:
  • Allah tidak diam
  • Allah tidak mungkin tidak adil
  • Allah Maha Kuasa
Berdasarkan tiga pola pikir ini, Elihu menegur Elifas, Bildad dan Zohar karena sudah terlalu cepat menghakimi. Tanpa pengetahuan yang benar, Elifas dan kedua temannya menganggap bahwa Ayub pasti dihukum Tuhan, padahal semua kesengsaraan Ayub disebabkan oleh Iblis. 

Ada konflik spiritual yang sedang berlangsung di balik layar kehidupan ini, sebuah peperangan rohani. Tetapi manusia sering tidak menyadari hal itu, sehingga ketika menghadapi masalah, mereka tidak memperhitungkan aspek konflik rohani ini. Kenyataannya ketidak tahuan manusia ini sering digunakan Iblis untuk memecah belah anak-anak Tuhan sehingga saling menyalahkan dan saling menghakimi.

Manusia juga cenderung melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang teramat sempit, yaitu sudut pandang diri sendiri! Jadi segala sesuatu diukur dengan standar diri sendiri sehingga terjadi konflik. Jika ada orang yang tidak sependapat langsung dicap salah. Jika ada tindakan orang yang tidak sesuai dengan kebiasaan langsung dianggap berdosa. Tetapi jika dipandang dari sudut pandang yang lebih luas dan dalam jangka waktu yang lebih panjang ada kemungkinan sebenarnya tidak ada perbedaan pendapat, perbedaan tindakan atau perbedaan values, tetapi karena prosesnya belum selesai sehingga sepertinya ada konflik.

Melihat secara sempit dan dalam jangka waktu pendek, tidak ada manfaatnya Yosua dan bangsa Israel repot-repot menyelamatkan Rahab si pelacur dan seisi keluarganya (Yos 6). Secara manusia mungkin saja Rahab cuma memanfaatkan situasi, oportunis, ingin cari selamat sendiri, bagaimana jika Rahab yang orang Amori itu kemudian menjadi mata-mata bagi musuh orang Israel? Tetapi tanpa Rahab tidak ada Daud, dan tidak ada Yesus Kristus (Mat 1:5-6). Dan penulis kitab Ibrani bisa bersaksi bahwa ternyata Rahab punya motivasi yang benar.
Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. – Ibr 11:31
Memang sering kali kita tidak mengerti jalan dan rencana Tuhan, tetapi marilah kita percaya kepada Tuhan bukan pada SAAT tidak mengerti jalanNya tetapi KARENA tidak mengerti jalanNya.

Bagaimana respon kita ketika kita melihat “Ayub-Ayub” disekitar kita? Untung atau Malang?

No comments:

Post a Comment