Monday, April 4, 2016

Perjalanan Menuju Kedewasaan Rohani

Kita harus kudus di hadapan Allah dan semakin dewasa di hadapan manusia

Salah satu titik paling membahagiakan dalam kehidupan manusia adalah pada saat kelahiran seorang anak. Semua anggota keluarga bersukacita, teman-teman datang untuk melihat bayi yang baru lahir tersebut dan orang-orang mengucapkan selamat. Kelahiran seorang bayi adalah suatu peristiwa yang sangat istimewa sehingga layak untuk dirayakan.

Tetapi kelahiran bukanlah satu-satunya hal yang akan terjadi dalam hidup bayi tersebut. Kelahiran hanyalah awal dari suatu perjalanan yang sangat panjang dari kehidupan bayi tersebut, untuk menjadi manusia yang dewasa, mandiri dan produktif. Semua manusia perlu melewati proses, tidak ada yang langsung menjadi dewasa secara instan pada saat lahir.

Prinsip yang sama juga berlaku dalam kehidupan rohani. Pada saat pertama kali kita menjadi percaya dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya, kita mengalami kelahiran baru secara rohani (Yohanes 3:5-7). Namun tidak berarti kehidupan rohani kita selesai pada saat itu. Kelahiran baru adalah titik awal dari sebuah perjalanan rohani menuju kesempurnaan.

Manusia adalah mahluk yang terdiri dari roh, jiwa dan tubuh (1 Tesalonika 5:23). Pada saat kita mengalami lahir baru, maka roh kita mengalami pemulihan. Ini yang disebut dengan Pembenaran (Justification), di mana Allah menyatakan kita “tidak bersalah” di hadapan-Nya, oleh karena apa yang sudah Tuhan Yesus kerjakan di atas kayu salib. Kita dibebaskan dari semua hukuman dosa masa lalu.

Pada saat yang sama, kita memasuki sebuah proses yang disebut dengan Pengudusan (Sanctification). Proses ini akan berlangsung seumur hidup, di mana kita diberi kemampuan untuk menang atas kuasa dosa. Titik akhir dari perjalanan rohani adalah ketika kita menerima tubuh yang baru, yaitu tubuh kemuliaan dan bertemu dengan Tuhan Yesus Kristus di Sorga (Filipi 3:20-21). Titik akhir ini disebut Pemuliaan (Glorification) di mana kita sungguh-sungguh bebas dari kehadiran dosa.

Sanctification: Pengudusan dan Pendewasaan

Dalam Alkitab, proses sanctification atau pengudusan memiliki pengertian; dipisahkan dari dunia kepada Allah. Walaupun secara posisi kita sudah kudus yaitu dibebaskan dari segala dosa oleh darah Kristus (Kis 13:39), tetapi kita tahu bahwa kita masih bisa berdosa (1 Yohanes 1:10). Di sinilah diperlukan sebuah proses yang secara progresif semakin memisahkan kita dari perbuatan-perbuatan dosa. Bukan untuk sekedar tidak berdosa lagi, tetapi juga supaya semakin mendekati keserupaan dengan hidup Kristus. Hal ini terjadi melalui ketaatan kepada firman Allah di dalam hidup kita. Inilah yang juga disebut pertumbuhan (1 Petrus 3:18) atau pendewasaan.

Tuhan sudah memulai pekerjaanNya untuk membuat kita menjadi semakin serupa dengan Kristus, dan Ia akan tetap melanjutkan pekerjaanNya itu (Flp 1:6). Pengudusan dan Pendewasaan adalah sesuatu yang harus sungguh-sungguh kita kejar sebagai orang percaya (1 Pet 1:15, Ibr 12:14). Sedemikian banyak pengajaran, nasihat, teguran, peringatan dicatat di dalam Alkitab memperlihatkan bahwa kita masih harus bergumul dengan dosa (Ibr 12:4) dan harus berubah untuk menjadi dewasa. Bahkan hajaran yang kita alami dalam proses hidup kita adalah bukti bahwa Tuhan mengasihi kita sebagai anak-anakNya (Ibr 12:5-8).

Hidup Penuh Dengan Pilihan-Pilihan

Kita memiliki peran pasif maupun aktif dalam proses pendewasaan rohani, yaitu:

1. Secara pasif kita percaya dan mengandalkan Tuhan yang akan menguduskan dan memampukan kita.
Kita menyerahkan diri kepada Tuhan dan tunduk kepada Roh Kudus. Ketika kita menjadi orang percaya, Tuhan sudah memberikan semua yang kita perlukan supaya kita bisa menjadi dewasa rohani. Rasul Petrus berkata bahwa “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib” (2 Pet 1:3). Hanya Tuhanlah sumber kekuatan kita, dan semua pertumbuhan rohani adalah karena kasih karunia-Nya kepada kita.

2. Secara aktif kita memiliki tanggung jawab secara pribadi untuk membuat pilihan-pilihan. Kita memilih untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging (Rom 8:13). Memilih untuk mengejar kekudusan (Ibr 12:14). Memilih untuk menjauhi percabulan (1 Kor 6:18). Memilih untuk menyucikan diri kita dari pencemaran jasmani maupun rohani (2 Kor 7:1). Berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menambahkan kepada iman kita kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang (2 Pet 1:5-7). Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung. Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus (2 Pet 1:10-11).

Kedua peran, pasif maupun aktif, sangat penting bagi kehidupan orang Kristen yang sehat. Jika kita hanya menekankan peran pasif, maka akan berakibat kepada kerohanian yang malas dan tidak mempedulikan disiplin rohani, dan akhirnya kerohanian yang tidak dewasa, kemunduran bahkan meninggalkan iman. Sebaliknya, terlalu menekankan kepada peran aktif dapat berakibat kepada legalisme, kesombongan rohani, sikap merasa paling benar dan berakhir kepada kehidupan Kekristenan yang dingin dan tanpa sukacita.

Sebuah Perjalanan Rohani

Proses pendewasaan rohani adalah sebuah perjalanan rohani untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Rasul Paulus mencatat bahwa proses tersebut akan berlangsung seumur hidup (Flp 3:12-14). Rasul Paulus berkata bahwa Ia pun belum sempurna, tetapi Ia mengejar dan senantiasa mengarahkan dirinya kepada pengenalan akan Kristus.

Kedewasaan rohani memerlukan perubahan prioritas hidup dalam diri kita, dari menyenangkan diri sendiri menjadi menyenangkan Tuhan. Dari mengikuti keinginan daging menjadi mengikuti keinginan Roh. Kunci dari kedewasaan rohani adalah ketekunan dalam melakukan hal-hal yang kita tahu akan membuat kita lebih dekat kepada Tuhan. Ini yang disebut dengan disiplin rohani. Hal-hal yang termasuk di dalamnya antara lain membaca dan merenungkan Firman Tuhan, doa, pujian dan penyembahan, persekutuan, pelayanan dan penatalayanan.

Namun perlu diingat, tidak peduli berapa besar usaha kita dalam melakukan semuanya itu, tidak satupun dapat terlaksana tanpa campur tangan Roh Kudus yang ada di dalam kita. Dalam Galatia 5:25 Rasul Paulus menulis bahwa kita sudah menerima hidup yang baru oleh Roh (justification), maka selanjutnya hidup kita yang baru itu hendaknya dipimpin oleh Roh (sanctification). Hal ini artinya, kita mengambil langkah-langkah dalam perjalanan rohani dengan meminta pimpinan dari Roh Kudus. Pada saat kita semakin menundukkan diri kita kepada Roh Kudus, maka buah Roh Kudus (Gal 5:22-23) akan muncul dalam hidup kita. Inilah ciri dari kerohanian yang dewasa.

Perjalanan rohani adalah sebuah jalan yang penuh dengan ujian, tantangan tetapi juga berkat-berkat, dimulai di kayu salib dan berakhir di kota sorgawi. – John Bunyan, Pilgrim’s Progress.

No comments:

Post a Comment