Saya sangat diberkati oleh kutipan berikut, semoga anda juga:
Paulus pernah menegaskan di masa tuanya: "Aku tahu siapa yang aku percaya" (2 Tim 1:12). Jika Paulus mengetahui dengan rasionya tentang apa yang ia percayai atau imani, maka pengetahuan dan iman dapat berjalan sejajar.
Rasio dan Iman dapat berjalan sejajar. Tetapi jika mereka harus saling mengisi, siapakah yang lebih superior, yang mana yang harus dipentingkan? Apakah kita harus menundukkan rasio ke bawah iman, ataukah menaklukkan iman ke bawah rasio? Paulus dengan tegas memakai satu kalimat untuk mendalami prinsip kesinambungan Perjanjian Lama sampai kepada Perjanjian Baru, yaitu: "Orang benar akan hidup melalui iman." Dengan kalimat ini, jelaslah bahwa iman menempati posisi yang utama. Iman merupakan unsur primer, lebih penting dari pada segala sesuatu. Tetapi iman itu harus dapat dipertanggungjawabkan dengan rasio yang dapat dimengerti dengan sesungguhnya.
Iman harus mendahului dan menjadi fondasi dari rasio kita. Iman, yang menyebabkan kita dapat berdiri di hadapan Tuhan. Tetapi orang yang berdiri di hadapan Tuhan juga harus berdiri di hadapan manusia. Pada waktu seseorang beriman kepada Tuhan, ia harus memberikan alasan di hadapan manusia mengapa ia beriman kepada Tuhan. Dengan iman kita berdiri dihadapan Tuhan, dengan pengetahuan kita mengerti mengapa kita berdiri di hadapan Tuhan, dan dengan pengetahuan yang sejati kita dapat membagi-bagikan iman yang murni kepada orang-orang sesama kita di dalam zaman kita ini.
Rasio tidak boleh dibunuh oleh iman, karena rasio dicipta oleh Tuhan sebagai satu bagian yang penting di dalam urutan fungsi di dalam dunia ini. Saya kira, melalui tempat Tuhan menempatkan organ-organ tubuh kita, Ia sudah memberikan indikasi kepada kita tanpa kita sadari, tentang tingkatan pentingnya organ tersebut.
- Dikutip dari: "Iman, Rasio dan Kebenaran", Stephen Tong, Hal 15-17.
No comments:
Post a Comment