Saturday, June 7, 2008

Untuk Mereka Yang Berdukacita

24 Desember 2007, Christmas Eve, adalah tanggal yang kelam dalam hidup saya. Bahkan masa-masa natal seolah menjadi berbeda, sejak istri saya Carolyn dipanggil pulang Bapa. Setelah 8 tahun berpacaran dan 11 tahun menjalani pernikahan tidaklah mudah untuk saya merelakan kepergian Carolyn. Kami menjalani hidup bersama melewati banyak hal baik suka maupun duka, kami selalu bersama-sama. Kami belajar saling mencintai, saling mengerti dan saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Kami berpikir bahwa kami tidak akan pernah berpisah, kami akan selalu bersama-sama.
Kenyataannya berbeda, kami harus dipisahkan oleh maut. Kesedihan dan kesendirian menghantui saya selama berbulan-bulan. Dibalik senyum dan keceriaan yang dapat dilihat orang, banyak air mata jatuh pada waktu sendirian. Tiba-tiba saya seorang diri, walaupun banyak keluarga dan sahabat, tetapi tidak ada yang bisa menggantikan Carolyn. Seringkali saya merasa tidak ingin merasa dekat dengan orang-orang yang saya cintai karena saya takut kehilangan mereka, sama seperti saya kehilangan Carolyn.
TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. - Mazmur 34:19
Puji Tuhan saya tidak larut dalam kesedihan karena saya punya iman percaya kepada janji dikatakan sendiri olah Tuhan dalam kebenaran firman. Saya percaya bukan suatu kebetulan beberapa bulan setelah Carolyn dipanggil Tuhan, saya diberi kepercayaan untuk menjadi hamba Tuhan. Saya diberi kesempatan untuk melayani untuk memberi semangat untuk menumbuhkan iman orang lain. Hal ini membuat saya banyak merenungkan mengenai apa yang saya alami dan refleksinya terhadap apa yang saya bagikan kepada orang lain. Sebelum saya dapat membangkitkan semangat orang lain, saya harus membangkitkan semangat saya sendiri terlebih dahulu. You have to walk the talk before you talk the walk.
Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Yesaya 50:4
Mata saya terbuka kepada suatu kenyataan hidup yang sebenarnya sangat sederhana tetapi sering tidak pernah disadari oleh anak-anak Tuhan. Tidak pernah dikatakan bahwa kita tidak akan mengalami masalah, tetapi Tuhan berjanji bahwa Ia akan selalu menyertai kita. Ketika Tuhan berkata kepada Yosua (bahkan diulang sampai tiga kali) supaya Yosua kuat dan teguh hati, adalah karena Tuhan tahu bahwa Yosua akan menghadapi perjalanan yang sulit. Tetapi asalkan Yosua tetap berpegang teguh kepada Firman Tuhan maka ia akan selalu berhasil dan beruntung.
Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." - Yosua 1:9
Be strong and of a good courage (KJV). It's not even a choice, but a commandment!
Dukacita adalah bagian wajar dari kehidupan tetapi dukacita yang berlarut akan menghilangkan semangat dan kekuatan. Bangkitlah dan jalani kehidupan, karena dukacita sebenarnya adalah sisi lain dari kebahagiaan. Pada saat kita mengambil keputusan untuk mencintai seseorang maka kita juga harus sadar bahwa semakin besar kita mencintai semakin semakin besar pula dukacita yang kita rasakan pada saat kita harus berpisah dengan orang tersebut.
Berikut ini sebuah artikel dari web site Focus on Family yang sangat memberikan inspirasi dan menumbuhkan iman percaya saya.
Embracing Romantic Grief, Embracing Love
We need to learn to embrace heartbreak and grief in order to be able to love again.
by Shana Schutte
Dalam artikel tersebut Shana menulis bahwa:
  • Walaupun sulit, tetapi kita harus menerima bahwa dukacita adalah bagian tidak terpisahkan dari cinta dan kasih sayang
    When we accept the reality of heartbreak, it can open our hearts to love, rather than keep us from it. Here's why: If we are afraid of getting hurt and insist on arranging our lives to avoid romantic grief, we forfeit the chance to love because, as C.S. Lewis stated, grief and pain are always love's price tags. On the flip side, when we accept the inevitability of heartbreak, we are one step closer to developing the courage it takes to love, no matter the cost.
  • Percaya bahwa kita mampu mengatasi dukacita dengan pertolongan Tuhan
    Granted, facing romantic grief doesn't mean that we beat it up one day and move on the next. Instead, it's a process of healing. But in the end, God has granted us the certainty of winning the war against grief and helping us regain the courage to love. His desire is never that we stay stuck in emotional pain and become paralyzed by relational fears.
  • Semangat! Tuhan mengetahui semua dukacita kita bahkan yang paling kecil sekalipun
    If you feel that you're swimming in a sea romantic grief, remember that no matter how insignificant you think your pain is to God, He notices. Not only that, but He has considered it to do something about it.
  • Kemampuan untuk bersyukur adalah tanda bahwa kita sudah melewati dukacita dari perpisahan dan siap untuk mencintai kembali
    When we can thank God for the part others have played in our lives, we can be confident we have been enhanced by knowing them—and we're ready to embrace love again.
Jadi jangan takut untuk kembali mencintai walaupun harus melewati dukacita, karena kita mengerti besarnya sukacita dari mencintai, apapun harga yang harus dibayar. Saya sangat tergerak kepada kesaksian Tom pada artikel tersebut yang kehilangan istrinya karena kanker payudara
"My love for her will never fade," he writes. "[It] was a love of devotion with no conditional boundaries. I would marry her all over again if I knew we had to face the adversity of breast cancer." 
Tom is willing to travel the difficult road to experience the gift of love, in spite of the cost. Mencintai adalah tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri, tetapi keputusan untuk menjadi berkat bagi orang lain, melayani orang lain. Kemampuan untuk mencintai adalah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan kepada kita anak-anaknya, bukan sesuatu untuk dihindari.
Amin.
Link:
Embracing Romantic Grief, Embracing Love
We need to learn to embrace heartbreak and grief in order to be able to love again.
by Shana Schutte

3 comments:

  1. :)


    Terima kasih buat postingannya . . it really gives me encouragement . Gbu :)

    ReplyDelete
  2. Hm... Saya sungguh diberkati sekali. Terima Kasih.

    GSJA Kemuliaan

    ReplyDelete
  3. it's quite relieving n has helped me to gain more n more strength from losing both parents (mom's was shortly after dad's).
    It aint easy to face.. But as my dad always told me "no matter what, d show must go on.",
    i believe HIS way is much better than we could think & imagine.

    God bless u & ur daughter abundantly.

    ReplyDelete