Tuesday, December 23, 2008

Ujian Karakter Yusuf Dan Maria

Menjelang perayaan natal kita akan sering sekali mendengar kisah mengenai Yusuf, Maria dan peristiwa kelahiran Yesus. Namun jarang sekali kita benar-benar menghayati kisah tersebut sesuai dengan kondisi pada zaman Yusuf dan Maria. Walaupun singkat kisah natal berbicara sangat kuat mengenai karakter Yusuf dan Maria. Dalam artikel ini kita akan melihat kisah ini tetapi dengan memperhatikan kondisi dan latar belakang sejarah dari kisah tersebut. Pada saat itu kita dapat menarik pelajaran yang sangat penting mengenai bagaimana kita harus memiliki karakter, yaitu respon yang benar, untuk dapat tetap bertahan dalam rencana Tuhan.

400 Tahun Masa Peralihan
Kelahiran Yesus tidak saja penting bagi umat kristiani, tetapi juga bagi seluruh dunia secara umum, begitu pentingnya sehingga pencatatan sejarah umat manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu masa ‘sebelum masehi’ (disingkat SM), atau dalam bahasa Inggris disebut ‘Before Christ’ (BC). Bagian berikutnya adalah masa ‘sesudah masehi’, dalam bahasa Latin disebut dengan ‘Ante Domine’ (AD), yang berati ‘Sesudah Tuhan’. Kata ‘masehi’ merupakan turunan dari kata ‘Mesias’ (‘Christ’ dalam bahasa Inggris), sehingga kata ‘Sebelum Masehi’ berarti sebelum Mesias atau sebelum kelahiran Yesus Kristus. Sebagai contoh, jika disebutkan kebudayaan China berdiri 2.000 tahun Sebelum Masehi artinya 2.000 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus.
Namun yang lebih penting dari hal tersebut adalah kelahiran Yesus menandakan mulainya masa yang baru dalam rencana besar Allah, yaitu masa yang sering kita sebut masa Perjanjian Baru. Kira-kira selama 400 tahun sebelum Yesus lahir ke dunia ini, tidak ada satupun nabi yang dikirimkan Allah untuk berbicara kepada orang Israel. Nabi terakhir yang dicatat oleh Alkitab adalah Maleakhi, bukanlah suatu kebetulan jika kitab Maleakhi merupakan kitab terakhir dari Perjanjian Lama.

Tetapi, walaupun Alkitab tidak mencatat apa yang terjadi kepada bangsa Israel selama 400 tahun tersebut bukan berarti tidak terjadi apa-apa terhadap orang Israel dan tanah Palestina tempat mereka tinggal. Bahkan ada satu perubahan besar terjadi ditempat itu yang sangat mempengaruhi kondisi orang Israel pada masa Perjanjian Baru.
Daerah Palestina adalah daerah yang sangat strategis karena merupakan tempat pertemuan dari tiga benua: Eropa, Asia dan Afrika. Begitu pentingnya daerah yang relatif kecil ini sehingga dari masa kemasa selalu ada kerajaan-kerajaan besar yang ingin menguasainya, kitab Yeremia, Yehezkiel dan Daniel mencatat setidaknya kerajaan-kerajaan seperti Asyur, Babilonia, Media, Persia silih berganti menguasai dearah itu. Kitab Ester, Ezra dan Nehemia ditulis pada saat daerah Palestina dikuasai oleh kerajaan Persia. Tetapi kira-kira 330 tahun sebelum kelahiran Yesus, seorang raja yang masih muda dari Makedonia memimpin sebuah kerajaan besar yaitu kerajaan Yunani, yang dengan cepat menguasai daerah Palestina, Turki, Mesir, Persia bahkan sampai ke India, raja tersebut bernama Aleksander Agung.

Namun walaupun Aleksander Agung dapat menguasai suatu daerah jajahan yang sangat luas, ia tidak bertahan lama, pada usia 33 tahun ia mati dan kerajaannya terpecah belah, dibagi diantara keempat panglimanya yang menguasai empat daerah jajahan. Pada awalnya kerajaan yang dibentuk di Mesir oleh jenderal Ptolemeus yang menguasai daerah Palestina, namun kemudian daerah tersebut direbut oleh kerajaan yang dibentuk di Siria dan Mesopotamia oleh jenderal Seleukus.

Beberapa raja sebelumnya tetap mengijinkan orang Yahudi beribadah di Bait Suci. Tetapi pada tahun 167 SM, seorang raja dari dinasti Seleukus yang bernama Antiokhus IV sangat membenci orang Yahudi. Ia melarang orang Yahudi beribadah kepada Allah, kemudian berusaha memusnahkan semua salinan kitab Taurat, bahkan memerintahkan mereka menyembah dewa orang Yunani yaitu Zeus. Pada puncaknya, Antiokhus mendirikan patung Zeus di dalam Bait Suci dan mempersembahkan korban berupa seekor babi. Hal ini merupakan kekejian yang memicu pemberontakan orang Yahudi yang terkenal dengan nama pemberontakan Makabe. Pada tahun 164 SM, keluarga Makabe yang memimpin pemberontakan ini kemudian menjadi penguasa baru.

Namun kemerdekaan orang Yahudi dari kekuasaan Yunani hanya berlangsung sekitar 100 tahun. Suatu kerajaan lain muncul dan sedang memperluas daerah kekuasaannya, termasuk ke daerah Palestina, yaitu kerajaan Romawi. Pada tahun 63 SM, tentara Romawi yang dipimpin jenderal Pompei masuk dan merebut daerah Palestina. Kaisar Agustus yang memimpin Romawi pada saat itu mengganti penguasa Yahudi pada saat itu dengan raja yang bukan orang Yahudi bernama Herodes.

Selain mengganti penguasanya, orang Romawi juga mencampuri urusan agama orang Yahudi dengan menunjuk siapa yang boleh menjadi Imam Besar. Akibatnya Imam Besar pada saat itu lebih cenderung memihak kepada orang Romawi supaya ia dapat mempertahankan jabatannya. Raja Herodes yang memerintah bagian daerah Yudea yang disebut Galilea, bekerja keras untuk menenangkan orang Yahudi. Ia mulai dengan membangun dan merenovasi Bait Allah, mempelajari agama dan adat-istiadat orang Yahudi. Herodes kemudian mengetahui bahwa orang Yahudi menantikan seorang raja dari keturunan Daud untuk menjadi pemimpin orang Israel.

Pada kondisi zaman inilah Tuhan Yesus Kristus lahir ke dunia ini.

Tantangan Bagi Maria
Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria…..Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus..…Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" – Luk 1:26, 27, 30, 31, 34

Kisah kelahiran Yesus diawali dengan datangnya malaikat Gabriel untuk menyampaikan pesan kepada Maria yang tinggal di kota Nazaret, wilayah Galilea. Pesan yang disampaikan adalah pesan yang tentunya sangat mengejutkan bagi Maria. Sebagai seorang wanita Yahudi yang masih sangat muda, belum menikah dan tinggal pada sebuah masyarakat dengan hukum yang tegas, Maria pasti memiliki rasa takut. Hukuman bagi wanita yang kedapatan hamil padahal belum menikah adalah hukuman rajam (Ul 22:23-24). Belum lagi ia memiliki seorang kekasih yaitu tunangannya, Yusuf. Bagaimana ia dapat menjelaskan hal ini kepada Yusuf?

Namun kemudian malaikat Gabriel menjelaskan bahwa ia mengandung karena kuasa Roh Kudus (Luk 1:35). Respon Maria pada saat itu adalah taat dan berserah kepada rencana Tuhan atas hidupnya.

Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia. – Luk 1:38

Tantangan Bagi Yusuf
Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. - Mat 1:18-19

Sebagai seorang lelaki Yahudi, Yusuf adalah seorang yang taat kepada hukum Taurat, tentunya ia sangat terkejut ketika ia mendapati bahwa Maria, tunangannya, sedang mengandung. Menurut hukum Taurat Maria dapat dikenai hukuman rajam dengan dilempari batu karena kedapatan sedang hamil (Ul 22:23-24). Tetapi Yusuf juga adalah seorang dengan karakter yang baik, ia mencintai Maria dengan tulus, karena itulah ia mau mengambil Maria sebagai tunangannya. Dan sesuai dengan hukum Taurat (Ul 24:1), alternatif lain dari situasi ini adalah Yusuf dapat menceraikan Maria, bukan menghukumnya. Tetapi dalam hukum Taurat, dibutuhkan saksi untuk dapat menceraikan Maria, jadi supaya Maria tidak dipermalukan di muka umum, Yusuf berniat menceraikannya diam-diam.

Namun kemudian malaikat Tuhan datang dan mengatakan kepada Yusuf bahwa Maria mengandung oleh kuasa Roh Kudus dan bahwa Anak dalam kandungan Maria adalah sang Juru Selamat. Respon Yusuf adalah langsung taat dan menikahi Maria.
Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya. - Mat 1:24

Kelahiran Yesus Kristus
Penguasa Romawi menindas rakyat Yahudi dengan kejam dan membebankan pajak yang berat kepada rakyat sehingga mereka harus bekerja lebih keras. Kaisar Agustus memerintahkan agar diadakan pendaftaran pajak atas seluruh rakyat dalam wilayah kekasiaran Romawi (Luk 2:1). Oleh karena itu setiap orang harus kembali ke daerah asal mereka untuk dihitung. Tentunya hal ini adalah tantangan besar bagi Yusuf dan keluarga barunya.
Sebagai bagian dari peraturan Roma yang baru, Yusuf harus pindah dari Nazaret di Galilea ke Betlehem di Yudea, tempat asal keluarga Yusuf yang adalah keturunan Daud (bdk. 1 Sam 17:12). Ini berarti Yusuf harus menghentikan usaha atau pekerjaannya di Nazaret, pindah ke Betlehem, memulai usaha baru, karena orang Romawi ingin menaikkan pajak. Belum lagi kehamilan Maria sudah hampir sembilan bulan. Bisa dibayangkan tantangan yang harus dihadapi oleh Yusuf dan Maria.

Perjalanan ke Betlehem juga tidak mudah, tidak ada mobil atau kereta api pada zaman itu, mereka harus berjalan kaki atau naik keledai. Jarak antara Nazareth ke Bethlehem adalah sekitar 113 kilometer atau ditempuh dalam waktu kira-kira satu minggu. Dalam perjalanan tidak ada hotel yang dapat mereka tinggali ketika hari malam seperti zaman sekarang, mereka harus berhenti di tengah jalan, memasak makanan dengan persiapan seadanya, tidur di tanah yang keras. Mereka harus menyesuaikan diri dalam situasi yang sulit.

Ketika sampai di Betlehem, mereka mendapati bahwa tidak ada kamar kosong dalam penginapan di kota itu. Padahal Maria sudah hampir melahirkan, dalam keadaan letih, jauh dari rumahnya, bagaimana reaksinya ketika ia mendengar kabar dari Yusuf bahwa mereka hanya bisa menggunakan sebuah kandang sebagai tempat tinggal?

Pada zaman itu, kandang binatang biasanya berada di lantai satu dari sebuah rumah, sedangkan dilantai dua digunakan untuk tempat tinggal manusia. Hal ini dimaksudkan supaya panas dari binatang di kandang akan menghangatkan ruangan di lantai dua. Dapat dibayangkan juga bagaimana kondisi kandang pada zaman itu yang penuh dengan kotoran, bau yang menyengat. Tentunya Yusuf dan Maria berpikir apakah tempat ini layak sebagai tempat lahir sang Juru Selamat umat manusia? Tetapi tidak ada pilihan lain karena Maria hampir melahirkan, setidaknya mereka mendapat tempat berteduh dan terlindung dari kedinginan.

Malam itu Immanuel Lahir, Yesus Kristus Juru Selamat umat manusia.

Pengharapan Kepada Janji Tuhan Yang Membuat Kita Bertahan
Dapatkan anda bayangkan bagaimana kisah Natal mungkin ditulis jika saja Maria dan Yusuf tidak memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan yang menghadapi mereka? Mulai dari awal pertunangan mereka, Yusuf dan Maria banyak menerima tantangan, kehamilan Maria, keraguan Yusuf, perjalanan dari Nazaret ke Betlehem, kelahiran Yesus. Bahkan jika kita membaca Alkitab, Maria harus menyaksikan Anak yang dilahirkannya harus mati secara mengerikan di kayu salib. Tetapi puji Tuhan, Maria dan Yusuf memiliki kemampuan bertahan, bukan karena kekuatan mereka sendiri, tetapi karena mereka memiliki pengharapan atas janji Tuhan.

Orang dunia memiliki kepercayaan bahwa manusia masih dapat bertahan jika semua yang dicintainya diambil dari padanya, tetapi manusia tidak mungkin bertahan lama jika pengharapan yang diambil dari padanya. Bagi kita anak-anak Tuhan, pengharapan kita ada pada Tuhan, dan Tuhan tidak pernah mengingkari janjiNya. Itulah pengharapan utama yang dipegang teguh oleh Yusuf dan Maria, dan itu juga yang harus kita pegang dalam kehidupan kita.
Amin. (/ptk)

No comments:

Post a Comment